
INTRIK.ID, PANGKALPINANG – Pemerintah Kota Pangkalpinang menyiapkan hingga 24 kali pelaksanaan Gerakan Pangan Murah (GPM) sepanjang peta jalan pengendalian inflasi 2026–2027. Langkah ini menjadi salah satu upaya pemerintah menjaga pasokan sekaligus menahan gejolak harga kebutuhan pokok di tengah masyarakat.
Terbaru, GPM digelar di halaman Koramil 0413/05, Kecamatan Tamansari, Kamis (5/11/2026). Kegiatan tersebut menjadi pelaksanaan GPM mandiri yang keempat dan titik ke-13 dari keseluruhan agenda yang telah berjalan.
Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Kota Pangkalpinang, Juhaini, mengatakan pelaksanaan GPM merupakan bagian dari strategi pengendalian inflasi daerah melalui penguatan ketersediaan bahan pangan.
“Dari peta jalan pengendalian inflasi yang kita tetapkan, Gerakan Pangan Murah di Kota Pangkalpinang dilaksanakan maksimal 24 kali pada 2026–2027. Ini merupakan strategi pemerintah kota dalam mengendalikan inflasi melalui ketersediaan stok bahan pangan,” ujar Juhaini di lokasi kegiatan.
Harga Distributor, Bulog Pasok 2 Ton Beras
Salah satu hal yang menjadi daya tarik GPM kali ini adalah harga komoditas yang ditawarkan setara harga distributor. Skema tersebut diharapkan dapat memangkas beban distribusi sehingga masyarakat memperoleh bahan pangan dengan harga lebih terjangkau.
Pelaksanaannya melibatkan sejumlah pihak. Perum Bulog memasok sekitar 2 ton beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP).
Sementara itu, distributor Dayat menyediakan komoditas cabai dan bawang. Sejumlah agen lokal juga ikut berpartisipasi, di antaranya agen Faïs dan agen telur ayam.
Keterlibatan distributor, Bulog, dan pelaku usaha lokal ini menjadi bagian penting dalam menjaga ketersediaan komoditas sekaligus memperluas akses masyarakat terhadap pangan dengan harga terjangkau.
Daya Beli Masyarakat Jadi Perhatian
Pemkot Pangkalpinang berharap pelaksanaan GPM secara berkelanjutan dapat membantu masyarakat menghadapi fluktuasi harga sejumlah komoditas pangan, terlebih saat memasuki musim penghujan.
Menurut Juhaini, kegiatan tersebut dilaksanakan melalui beberapa skema kerja sama, baik secara mandiri, bersama Bank Indonesia, maupun menggunakan dukungan APBD.
“Harapan kita, dengan adanya GPM ini dapat meringankan beban masyarakat dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari, terutama di tengah fluktuasi harga beberapa komoditas saat ini,” katanya.
Dengan target maksimal 24 kali pelaksanaan, tantangan berikutnya bukan sekadar memenuhi agenda operasi pasar. Konsistensi pasokan, keterjangkauan harga, dan ketepatan sasaran menjadi hal penting agar Gerakan Pangan Murah benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.