
Salah satu sahabat pena pertamanya adalah Nona Stella Zeehandelaar yang ada di Belanda tertanggal 25 Mei 1899. Kartini dengan langsung terbuka dan terus terang enceritakan apa saja yang dialaminya sebagai perempuan lajang yang lahir dan tumbuh di keluarga ningrat Jawa. Kartini menceritakan bagaimana ruang geraknya yang sangat terbatas serta adat-adat yang kaku dan mengikat membuatnya tidak bisa berbuat apa-apa kecuali menuliskan surat dan mengirimkanya kepada sahabat penanya.
Perlu diketahuai bahwa R.A Kartini tidak pernah menceritakan keterkungkungannya kepada orang-orang yang ada di lingkungannya kecuali kepada adik perempuannya. Baginya menceritakan melalui surat kepada sahabat penanya adalah suatu kebebasan baginya dalam berekspresi. Apalagi tidak hanya sekali mereka saling berbalas surat, tap sampai empatbelas kali. Hal tersebut menunjukkan intensitas anatra ekduanya yang sangat dekat meski hanya berkomunikasi melalui tulisan surat.
Sebenarnya tidak hanya Stella Zeehandelaar yang menjadi sahabat penanya, masih banyak lagi seperti Nyonya M.C.E Ovink-Soer, Nyonya R.M. Abendanon-Mandri, Tuan Dr. N. Adriani, Tuan, Prof. Dr. G.K. Anton dan Nyonya di Jena, dan lain sebagainya. Sampai menjelang R.A.Kartini tutup usia pun masih menyempatkan untuk menulis surat kepada Nyonya R.M. Abendanon-Mandri (Rembang, 7 September 1904).
Setelah dikumpulkan lembaran-lembaran surat-surat R.A.Kartini kepada para sahabat penanya, kemudaian diterjemahkan oleh Sulastin Sustrisno dan bku tersebut diprakatai oleh Katrin bandel dan dijadikan menjadi sebuah buku dengan judul EMANSIPASI: Surat-surat kepada Bangsanya 1899-1904, Yogyakarta: Jalasutra, 2014. Meski sebenarnya penerbitan pertama kali dengan judul Surat-surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bnagsanya, Jakarta: Djambatan, 1997. Meski berubah judul dan diterbitkan kembali oleh Jalasutra tentu tidak merubah esensi sebenarnya dari isi surat-surat tersebut. Kini buku yang dimaksud menjadi sumber acuan ketika akan menulis tentang R.A. Kartini baik bagi kaum akademisi atau pun masyarakat umum. Setidaknya R.A.Kartini meninggalkan jejaknya melalui literasi untuk kaumnya hingga membekas sampai saat ini.
Membaca sejarah R.A. Kartini tentu membuat pembaca terkesima, apalagi jika kita kaitkan kembali dnegan pertanyaan tersebut di atas. Momen Hari Kartini perempuan harus berbuat apa? Tentu jika kita cermati bersama, pembaca dipastikan sudah paham apa yang dimaksud. Yakni “menulis” sebagai bentuk ekspresi diri dalam melakukan gerakan literasi dalam mencerdaskan generasi bangsa.
Seiring berjalannya waktu, perempuan Indonesia sudah semakin terbuka dan mampu menerjemahkan serta mewujudkan cita-cita yang diinginkan R.A.Kartini untuk bangsanya. Perempuan Indonesia sudah melek pendidikan, perempuan Indoensia sudah melek literasi baik non digital maupun literasi digital dan sebagianya. Bahkan sudah banyak para aktivis, akademisi, organisasi, perguruan tinggi, lembaga tertentu yang memulai menginisiasi lakukan gerakan literasi dalam memperingati hari Kartini dengan membuka lomba penulisan artikel bagi kalangan pelajar, mahasiswa, ibu ruah tangga, karyawan, dan perempuan pekerja lainnya yang ada di Indonesia.