Momen Hari Kartini, Perempuan Harus Apa?

    Perempuan Indonesia kerapkali merayakan hari Kartini dengan melakukan kegiatan lomba–lomba, seperti lomba memasak, berhias, lomba kebaya, lomba merangkai bunga dan lain sebagianya, yang tidak ada keberlanjutan untuk pemberdayaan pada perempuan itu sendiri sehingga terkesan stagnan dan domestik. Harusnya ada keberlanjutan untuk pemberdayaan pada perempuan.

    Memasak, berhias, merangkai bunga, lomba kebaya tidak salah, akan tetapi apakah itu sudah sesuai dengan harapan R.A Kartini agar perempuan tidak hanya bergerak diranah domestik saja? namun bisakah mengubah pola domestik menjadi mempu berkiprah di ranah publik? Sebenarnya bisa saja, asalkan ada yang suport, ada yang mendukung, yakni dengan adanya keberlanjutan dari setelah kegiatan loba-lomba tersebut ada tahap pemberdayaan pada perempuan. Misalnya yang sudah masuk 3 besar dalam lomba tersebut selain mendapatkan hadiah bisa dibantu untuk mendapatkan bantuan dana dan bisa membuka usaha atau bisa dimasukkan dalam data penerima bantuan UMKM di wilayahnya. Begitu juga dengan 3 besar juara lomba berhias, merangkai bunga dan lomba baju kebaya. Jika ada keberlanjutan tentu akan lebih menarik karena bisa membangun kemandirian ekonomi perempuan melalui ajang perlombaan di hari Kartini setiap tanggal 21 April. Artinya ada inovasi, ada dampak besar dari kegiatan yang dilaksanakan demi kemajuan perempuan agar tidak tertindas oleh budaya patriarki yang sampai sekarang masih mengakar tajam.

    Kemandirian dan pendidikan pada perempuan menjadi bagian dari cita-cita R.A Kartini agar perempuan bisa terlibat dan berkiprah di ranah publik tidak hanya domestik saja. Hal tersebut belajar dari sejarah kehidupan R.A Kartini yang sangat jauh dari kata “bebas”. Kehidupannya sangat diatur, dari mulai pakaian, makan, cara jalan, cara duduk, cara berbicara, cara bergaul dan memilih teman sederajad pun semuanya diatur oleh keluarganya yang bangsawan. Tidak bisa lakukan aktifitas sesuai keinginannya dengan teman-teman seusianya, tidak bebas untuk mewujudkan cita-citanya yang tinggi menjadi perempuan madiri dan sebagianya.

    Tentu hal itu menjadi cambuk baginya, meski R.A Kartini terkungkung dalam budaya patriarki, ia pun melakukan usaha dengan cara menulis surat kepada sahabat-sahabat penanya yang berada di belahan dunia dengan menggunakan bahasa Inggris, Belanda dan Prancis. Kebiasaan menulis surat sudah ia tekuni sejak usia 15 tahun sampai beranjak dewasa, menulis surat baginya adalah salah satu hal yang mengasyikkan karena tidak ada batas dalam mengekspresikan perasaannya. Meski jauh dan belum pernah bertemu, baginya sahabat-sahabat penanya sangat berharga dan dekat sekali, berbeda dengan teman selingkungan yang ada di sekolahnya.

    Pages: 1 2 3 4
      Ikuti kami di Facebook