
Melalui buku ‘Mapur Mendulang Kisah Meraup Berkah’, kisah-kisah lisan yang dahulu hanya beredar dari mulut ke mulut kini menjelma menjadi bahan literasi di sekolah-sekolah. Tak hanya itu, masyarakat adat kini dibekali berbagai keterampilan, mulai dari membatik, menenun, hingga dilatih menjadi pemandu wisata profesional.
“Kini lebih meriah, orang luar banyak yang datang untuk menonton dan bertanya-tanya,” ujar Jojo, salah seorang penghayat Adat Mapur yang aktif menyambut tamu di kampung adat tersebut.
Di Kampung Adat Gebong Memarong, masa lalu tidak dibiarkan menjadi sunyi atau sekadar pajangan di etalase galeri. Melalui kolaborasi yang erat antara masyarakat adat dan korporasi, warisan leluhur ini terus dihidupkan, memberi manfaat ekonomi, sekaligus memastikan identitas masyarakat Mapur tetap bernapas hingga masa depan.