
INTRIK.ID, BANGKA – Di tengah gempuran arsitektur modern, sebuah kearifan kuno tetap berdiri kokoh di Dusun Air Abik, Desa Gunung Muda, Kabupaten Bangka. Namanya Memarong, rumah tradisional masyarakat Adat Mapur yang bukan sekadar bangunan, melainkan simbol harmoni antara manusia dan alam.
Memarong memiliki keunikan yang jarang ditemukan pada bangunan masa kini. Seluruh strukturnya dibangun dari material alam tanpa menggunakan sebatang paku pun. Kayu-kayu pilihan diikat rapat dengan bilah rotan, beralaskan belahan kayu ibul, dan berdinding kulit kayu yang bersahaja. Atapnya pun setia menggunakan tudung daun nipah atau rumbia yang memberikan kesejukan alami.
”Memarong adalah tempat kenangan berdiam, tempat adat diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya,” ungkap salah satu warga adat setempat.
Pada tiap jalinan rotannya, Memarong menyimpan pengetahuan lama tentang bagaimana mengambil secukupnya dari alam dan mengembalikannya dengan hormat. Arsitektur ini mencerminkan prinsip hidup masyarakat Mapur yang subsisten—mencukupi tanpa berlebih-lebihan—sebuah filosofi yang kini kembali relevan di tengah isu krisis lingkungan global.
Keberadaan Kampung Adat Gebong Memarong ini kini menjadi magnet bagi ribuan pelajar dan wisatawan. Mereka datang bukan sekadar untuk berswafoto, melainkan untuk menelusuri jejak sejarah “Orang Darat” yang tercatat dalam ekspedisi kolonial sejak tahun 1803.
Upaya merawat memori kolektif ini tak lepas dari peran PT Timah yang telah lama membersamai masyarakat Adat Mapur. Dukungan yang diberikan tidak hanya bersifat simbolik melalui pembangunan fisik, tetapi juga menyentuh aspek literasi dan kemandirian ekonomi.
Melalui buku ‘Mapur Mendulang Kisah Meraup Berkah’, kisah-kisah lisan yang dahulu hanya beredar dari mulut ke mulut kini menjelma menjadi bahan literasi di sekolah-sekolah. Tak hanya itu, masyarakat adat kini dibekali berbagai keterampilan, mulai dari membatik, menenun, hingga dilatih menjadi pemandu wisata profesional.
“Kini lebih meriah, orang luar banyak yang datang untuk menonton dan bertanya-tanya,” ujar Jojo, salah seorang penghayat Adat Mapur yang aktif menyambut tamu di kampung adat tersebut.
Di Kampung Adat Gebong Memarong, masa lalu tidak dibiarkan menjadi sunyi atau sekadar pajangan di etalase galeri. Melalui kolaborasi yang erat antara masyarakat adat dan korporasi, warisan leluhur ini terus dihidupkan, memberi manfaat ekonomi, sekaligus memastikan identitas masyarakat Mapur tetap bernapas hingga masa depan.
Sumber: PT Timah Tbk