
Pertama, Marukawa memiliki pengalaman bermain di Indonesia dan memahami karakter kompetisi domestik. Adaptasi terhadap lingkungan sepak bola Indonesia bukan lagi persoalan besar baginya.
Kedua, kemampuan bermain di beberapa posisi menyerang dapat memberikan pilihan tambahan bagi pelatih. Ia bisa menjadi alternatif ketika tim membutuhkan kreativitas dari sektor sayap.
Ketiga, persaingan di lini serang Timnas Indonesia cukup ketat. Marukawa harus bersaing dengan pemain yang telah lebih dahulu menjadi bagian dari skuad nasional, termasuk mereka yang memiliki pengalaman di kompetisi luar negeri.
Faktor usia juga perlu diperhitungkan secara proporsional. Pada usia 29 tahun, Marukawa masih berpeluang memberikan kontribusi, tetapi keputusan pemanggilan tetap akan bergantung pada performa aktual, kondisi fisik, dan kebutuhan taktik tim.
Pada akhirnya, peluang Marukawa memperkuat Timnas Indonesia tidak cukup dinilai dari keinginannya menjadi WNI atau reputasinya ketika berseragam Persebaya.
Ia perlu menunjukkan bahwa kualitasnya masih relevan untuk kebutuhan tim nasional. Produktivitas, konsistensi, dan kemampuannya menghadapi lawan dengan level permainan lebih tinggi akan menjadi ukuran penting.
Jika proses naturalisasi berjalan lancar dan performanya terus meningkat, Marukawa bisa menjadi opsi yang patut dipertimbangkan. Namun, untuk saat ini, peluang tersebut masih berupa kemungkinan, bukan kepastian.
Keputusan akhirnya berada di tangan pelatih dan otoritas sepak bola terkait. Bagi Marukawa, pekerjaan terpenting adalah menjaga performa di level klub sambil menunggu kepastian mengenai status kewarganegaraan dan kelayakannya.