
INTRIK.ID, BABEL — Sampah organik yang kerap menjadi persoalan lingkungan dapat diolah menjadi peluang ekonomi. Gagasan itu dikembangkan Tim BECAK BABEL melalui unit usaha Maggot Wangka hingga terpilih sebagai penerima program PFmuda Pertamina Foundation 2025–2026 pada kategori sociopreneur.
Tim yang dipimpin Arinda Unigraha bersama Derfian Aulyyah dan Andi Sukmawati tersebut berhasil melewati persaingan lebih dari 3.485 kelompok pengusul dari berbagai daerah di Indonesia. Berdasarkan informasi dari tim, Maggot Wangka masuk dalam 110 penerima program sekaligus menjadi satu-satunya penerima dari Pulau Bangka.
Pencapaian tersebut membuka peluang bagi tim untuk mengembangkan inovasi pengolahan sampah organik yang tidak hanya menyasar persoalan lingkungan, tetapi juga berpotensi mendukung ketahanan pangan melalui penyediaan bahan pakan ikan dan ternak.
Melalui Maggot Wangka, Tim BECAK BABEL mengolah sampah organik menggunakan larva Black Soldier Fly (BSF). Metode ini berpotensi mengurangi volume sampah organik sekaligus menghasilkan maggot yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan pakan.
Pendekatan tersebut mengusung konsep ekonomi sirkular, yakni mengolah bahan yang sebelumnya dianggap limbah menjadi produk bernilai guna. Jika dikembangkan secara berkelanjutan, model ini berpeluang menciptakan nilai ekonomi baru sekaligus mendorong pemanfaatan sumber daya lokal.
Ketua Forum Kewirausahaan Pemuda (FKP) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Arinda Unigraha, mengatakan keberhasilan masuk program PFmuda bukan sekadar pencapaian dalam kompetisi nasional. Menurutnya, kesempatan tersebut menjadi dorongan untuk memperluas manfaat inovasi yang dikembangkan anak muda di daerah.
“Alhamdulillah, kami sangat bersyukur Maggot Wangka dapat menjadi bagian dari PFmuda Pertamina Foundation 2025-2026. Ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus membuktikan bahwa persoalan sampah dapat diubah menjadi peluang ekonomi dan solusi bagi ketahanan pangan,” ujar Arinda.
Ia berharap dukungan program tersebut dapat memperkuat pengembangan usaha, memperluas kolaborasi, serta membuka kesempatan bagi lebih banyak pemuda dan masyarakat untuk terlibat dalam pengelolaan sampah organik.
Program PFmuda merupakan inisiatif Pertamina Foundation yang mendorong generasi muda mengembangkan proyek sosial inovatif. Pada periode 2025–2026, program ini mengusung tema “Inovasi Generasi Muda untuk Ketahanan Energi dan Pangan”.
Para penerima program memperoleh kesempatan untuk mengikuti pendampingan kewirausahaan, penguatan kapasitas sumber daya manusia, pengembangan jejaring, serta dukungan pendanaan proyek sesuai ketentuan program. Fasilitasi Demo Day juga menjadi bagian dari rangkaian pengembangan inovasi terpilih.
Bagi Maggot Wangka, dukungan tersebut menjadi kesempatan untuk mengembangkan gagasan menjadi usaha yang lebih kuat. Tantangan berikutnya adalah memastikan pengolahan sampah berjalan konsisten, kualitas produk terjaga, dan manfaat ekonomi dapat dirasakan secara berkelanjutan oleh masyarakat.
Pembina Kewirausahaan Pemuda DISPARBUDKEPORA Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Harry Wahyudi, menilai capaian tersebut dapat menjadi inspirasi bagi wiramuda lain untuk mengembangkan usaha yang tidak hanya berorientasi pada keuntungan, tetapi juga memberikan manfaat sosial dan lingkungan.
Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah, komunitas, akademisi, dan dunia usaha dapat membantu memperkuat kewirausahaan sosial sebagai bagian dari pengembangan ekonomi hijau dan pembangunan berkelanjutan di daerah.
Keberhasilan Maggot Wangka memperlihatkan potensi anak muda Bangka Belitung dalam menghadirkan solusi berbasis persoalan lokal. Namun, dampak akhirnya akan ditentukan oleh kemampuan tim menjaga keberlanjutan usaha, memperluas pengolahan sampah, dan membuktikan manfaat inovasinya bagi lingkungan serta perekonomian masyarakat.(*)