
INTRIK.ID, JAKARTA — Rencana pengusaha Jusuf Hamka bersama sejumlah rekan bisnisnya menyiapkan dana Rp5 triliun untuk membeli saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) menjadi sorotan di tengah tekanan hebat pasar modal Indonesia.
Langkah yang diumumkan pada 18 Oktober 2026 itu muncul setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami penurunan tajam pada perdagangan 16 Oktober. Gejolak pasar tersebut terjadi setelah penyedia indeks global MSCI membuka konsultasi mengenai kemungkinan perubahan klasifikasi pasar Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market.
Jusuf, yang akrab disapa Babah Alun, menyatakan konsorsiumnya akan masuk ke pasar saham pada Senin, 19 Oktober 2026. Ia menilai koreksi harga justru membuka peluang untuk membeli saham berkapitalisasi besar atau blue chip.
Namun, rencana pembelian dalam jumlah besar belum tentu cukup untuk memulihkan pasar. Efeknya sangat bergantung pada realisasi transaksi, saham yang dibeli, serta respons investor lainnya.
Secara mekanisme pasar, pembelian saham dalam jumlah besar dapat meningkatkan permintaan. Apabila permintaan melampaui penawaran pada harga yang tersedia, harga saham berpotensi naik.
Jika saham yang dibeli memiliki bobot besar dalam perhitungan IHSG, kenaikannya juga dapat membantu menopang indeks.
Jusuf menyebut sejumlah saham perbankan besar, yakni PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA).
Meski demikian, belum ada rincian publik mengenai pembagian dana Rp5 triliun tersebut untuk masing-masing saham. Karena itu, besarnya pengaruh terhadap harga saham maupun IHSG belum dapat dihitung secara pasti.
Apabila pada saat yang sama tekanan jual masih tinggi, pembelian tersebut bisa saja hanya meredam penurunan, bukan membalikkan arah pasar.
Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik menyambut positif dukungan investor terhadap pasar modal domestik. Namun, ia menegaskan bahwa informasi mengenai transaksi dan identitas pihak yang bertransaksi di bursa bersifat rahasia sehingga tidak dapat diungkap kepada publik.
Sikap tersebut membuat publik belum memiliki konfirmasi resmi dari BEI mengenai realisasi maupun nilai transaksi yang dilakukan konsorsium Jusuf Hamka.
Dengan demikian, rencana pembelian Rp5 triliun perlu dibedakan dari transaksi yang sudah terlaksana. Tanpa rincian yang dapat diverifikasi, belum tepat menyimpulkan bahwa dana tersebut telah sepenuhnya masuk ke pasar.
Pembelian saham oleh investor domestik dapat membantu menjaga permintaan dan memberi sinyal kepercayaan terhadap pasar. Akan tetapi, investor asing mengambil keputusan berdasarkan berbagai pertimbangan, termasuk likuiditas, transparansi kepemilikan, akses pasar, serta risiko investasi.
Persoalan yang disorot MSCI tidak hanya berkaitan dengan harga saham yang sedang turun. Penyedia indeks tersebut juga menyampaikan kekhawatiran mengenai transparansi struktur kepemilikan saham dan aksesibilitas pasar Indonesia.
Karena itu, aksi beli investor lokal tidak otomatis menyelesaikan persoalan yang menjadi dasar konsultasi MSCI. Perbaikan tata kelola dan keterbukaan informasi tetap dibutuhkan untuk memulihkan kepercayaan secara lebih berkelanjutan.
Jusuf menilai saham-saham perbankan besar menawarkan peluang dari pembagian dividen maupun potensi kenaikan harga ketika pasar pulih.
Namun, keuntungan tidak dapat dipastikan. Imbal hasil dividen bergantung pada keputusan pembagian dividen perusahaan dan harga saham saat pembelian. Sementara itu, harga saham bisa kembali turun apabila sentimen pasar memburuk.
Bagi investor, penurunan harga bukan dengan sendirinya bukti bahwa suatu saham sudah murah. Kinerja perusahaan, valuasi, kondisi keuangan, dan risiko tetap perlu diperhitungkan.
Rencana Jusuf Hamka dan rekan bisnisnya dengan demikian menjadi salah satu perkembangan yang patut diperhatikan di tengah tekanan pasar modal. Namun, ukuran keberhasilannya bukan semata-mata besarnya dana yang diumumkan, melainkan realisasi pembelian dan apakah kepercayaan pasar dapat pulih secara lebih luas.