
“Enggak boleh mentang-mentang kita punya kekuasaan yang besar, kemudian kita pakai untuk menjatuhkan orang. Boten. Itu hal yang tidak baik,” kata Jokowi.
Jokowi juga mengingatkan bahwa penyalahgunaan kekuasaan tidak hanya berpotensi terjadi di tingkat pemerintahan pusat. Sikap sewenang-wenang dapat muncul pada siapa pun yang memiliki jabatan, termasuk pemimpin di tingkat desa.
Ia mencontohkan seorang lurah yang merasa memiliki kewenangan lalu memperlakukan rakyat dengan kasar.
“Mentang-mentang jadi lurah, kemudian ke rakyatnya gebuk-gebuk-gebuk. Sering ngendiko kasar ke rakyat. Nggak boleh,” ujarnya.
Pernyataan itu menegaskan bahwa jabatan seharusnya tidak menjadi pembenaran untuk merendahkan, menekan, atau memperlakukan masyarakat secara semena-mena.
Bagi Jokowi, kekuasaan harus disertai kesadaran bahwa setiap jabatan memiliki batas waktu. Orang yang hari ini berada di posisi tinggi tidak selamanya akan menduduki jabatan yang sama.
Jokowi kemudian mengingatkan bahwa kekuasaan dan jabatan bukan sesuatu yang permanen.