
Yale Humanitarian Research Lab (2025) mencatat bukti satelit atas pembunuhan massal, serangan terhadap fasilitas medis, dan tindakan kekerasan seksual yang sistematis. Sementara Republika (2025) melaporkan bahwa warga sipil dibunuh di masjid dan rumah sakit.
Krisis Sudan bukan konflik etnis murni. Melainkan krisis yang tercipta dari kepentingan negara-negara besar. Inggris telah mewariskan luka kolonial sejak abad ke-19 dengan kebijakan diskriminatif “closed door ordinances” yang memisahkan wilayah Utara (Arab-Muslim) dan Selatan (Kristen-Animis).
Kemudian setelah Perang Dunia II, Amerika datang mengambil alih dominasi politik-sekonomi Inggris di Sudan. Dengan dalih transisi demokrasi, padahal tujuannya mengamankan akses minyak dan emas Sudan. Sementara UEA dan Israel ikut bermain di jalur senjata dan perdagangan emas. (Muslimah News, “Sudan Merana di Bawah Cengkeraman Kepentingan Barat”, 05 November 2025).
Semua ini menunjukkan bahwa penderitaan rakyat Sudan adalah hasil dari kerakusan kapitalisme global yang berlomba menguasai sumber daya alam negeri Muslim. Lebih dalam lagi, Sudan adalah potret dari ketidakadilan global yang menimpa banyak negeri Muslim termasuk Palestina, Suriah, dan Yaman.
Sudan adalah negeri Muslim terbesar ketiga di benua Afrika, dengan populasi lebih dari 46 juta jiwa. Mayoritas warganya beragama Islam, dan sejarahnya terhubung erat dengan peradaban Islam di Afrika Timur. Negara ini memiliki lebih banyak piramida dibanding Mesir, dan Sungai Nil yang lebih panjang di wilayahnya (Republika, 2024).
Namun di balik kekayaan sejarah dan alam itu, Sudan justru terperosok dalam krisis kemanusiaan yang panjang. Padahal Sudan adalah negeri yang kaya sumber daya alam. Bahkan disebut sebagai produsen emas terbesar di dunia Arab. Namun kekayaan Sudan tidak membuatnya sejahtera. Justru menjadi petaka dan tanah pertumpahan darah akibat kerasukan negara-negara kapitalis.
Sebagai Muslim, penderitaan di Sudan seharusnya mengetuk hati dan akal kita.
Rasulullah ﷺ bersabda: