IHSG Bangkit usai Ucapan Prabowo Tak Takut MSCI

    Caption: Laba Emiten naik dengan logo BEI.

    INTRIK.ID, JAKARTA — Pasar saham Indonesia mulai menunjukkan tanda pemulihan setelah sempat dihantam tekanan jual menyusul rencana Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengkaji perubahan klasifikasi pasar modal Indonesia.

    Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berbalik menguat pada perdagangan Kamis (22/10/2026), sehari setelah Presiden Prabowo Subianto menegaskan Indonesia tidak akan gentar menghadapi tekanan dari MSCI.

    Pada sesi pertama perdagangan Kamis, IHSG menguat 90,64 poin atau 1,70 persen ke level 5.419,00. Padahal, indeks sempat dibuka melemah ke posisi 5.247,98 dan menyentuh titik terendah 5.185,53 sebelum akhirnya berbalik ke zona hijau.

    Data perdagangan menunjukkan sebanyak 550 saham menguat, sedangkan 131 saham melemah. Penguatan tersebut memperlihatkan bahwa pemulihan tidak hanya terjadi pada satu atau dua saham, meski kontribusi setiap emiten terhadap IHSG berbeda-beda.

    Prabowo: Indonesia Tidak Takut MSCI

    Pernyataan tegas Prabowo disampaikan dalam Sidang Kabinet Paripurna di Jakarta, Rabu (21/10/2026). Presiden merespons tekanan terhadap pasar modal Indonesia setelah MSCI membuka konsultasi mengenai kemungkinan perubahan status Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market.

    “Bangsa Indonesia tidak takut siapa pun dan tidak akan gentar,” kata Prabowo dalam pernyataannya.

    Presiden juga menegaskan bahwa Indonesia memiliki keberanian untuk menghadapi berbagai tantangan dan tidak akan menyerah begitu saja terhadap tekanan yang muncul.

    Pernyataan itu menjadi sorotan di tengah kekhawatiran investor terhadap masa depan pasar modal nasional. Namun, penguatan IHSG sehari setelah pidato tersebut tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa pernyataan Presiden menjadi penyebab tunggal kenaikan indeks.

    Pergerakan pasar tetap dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari transaksi investor, kondisi saham-saham berkapitalisasi besar, hingga penilaian investor terhadap prospek ekonomi dan risiko investasi.

    Saham BUMN Ikut Menopang Kenaikan

    Penguatan IHSG pada sesi pertama juga ditopang kenaikan sejumlah saham perusahaan milik negara.

    Saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) naik sekitar 2,43 persen, PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) menguat 2,15 persen, sedangkan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) naik 1,07 persen.

    Di sektor telekomunikasi, saham PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) menguat 1,89 persen. Sementara itu, saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) naik sekitar 4,04 persen.

    Kenaikan saham-saham tersebut membantu mendorong indeks kembali ke zona positif. Saham dengan kapitalisasi pasar besar memiliki pengaruh yang relatif signifikan terhadap pergerakan IHSG.

    Meski demikian, penguatan pada satu sesi perdagangan belum cukup untuk memastikan bahwa tekanan terhadap pasar modal telah berakhir.

    Ancaman MSCI Belum Selesai

    Di balik rebound IHSG, persoalan yang menjadi perhatian MSCI masih membutuhkan penyelesaian.

    MSCI sebelumnya menyampaikan kekhawatiran mengenai transparansi struktur kepemilikan saham, keterbukaan informasi, serta dugaan praktik perdagangan terkoordinasi di pasar Indonesia.

    Lembaga penyedia indeks global itu membuka konsultasi mengenai kemungkinan perubahan klasifikasi Indonesia dari pasar berkembang menjadi pasar mandiri atau Standalone Market. Keputusan final mengenai usulan tersebut dijadwalkan paling lambat pada Juni 2027.

    Perubahan klasifikasi berpotensi memengaruhi bagaimana investor institusi global yang menggunakan indeks MSCI sebagai acuan mengalokasikan dana mereka. Karena itu, persoalan tersebut tidak hanya berkaitan dengan naik atau turunnya IHSG dalam satu hari, tetapi juga kepercayaan investor terhadap tata kelola pasar modal Indonesia.

    Pemerintah dan otoritas pasar modal perlu memastikan bahwa respons terhadap persoalan tersebut disertai langkah konkret untuk memperkuat transparansi, meningkatkan kualitas pengawasan, dan menjaga kepastian hukum.

    Rebound Jadi Kabar Baik, tetapi Pasar Masih Diuji

    Kenaikan IHSG sebesar 1,70 persen memberi ruang bagi pasar untuk bernapas setelah tekanan tajam pada perdagangan sebelumnya.

    Namun, investor masih akan mencermati apakah penguatan dapat berlanjut dalam beberapa sesi berikutnya. Konsistensi pergerakan indeks, arus dana asing, serta perkembangan kebijakan MSCI akan menjadi sejumlah faktor penting yang diperhatikan pasar.

    Pernyataan Prabowo menunjukkan sikap pemerintah dalam menghadapi tekanan eksternal. Akan tetapi, kepercayaan investor tidak hanya dibangun melalui pernyataan tegas, melainkan juga melalui pembenahan pasar yang dapat diukur dan dirasakan pelaku investasi.

    Dengan demikian, kebangkitan IHSG menjadi perkembangan positif, tetapi belum menjadi tanda bahwa persoalan pasar modal Indonesia telah selesai.

      Ikuti kami di Facebook