GPPL-WKM: Rencana PT Timah di Desa Batu Beriga akan Timbulkan Kerusuhan

    Caption : Dokumentasi beberapa waktu lalu Suasana aktivitas Tambang Inkonvensional ( TI ) Lingkungan Nelayan Satu Sungailiat.

    INTRIK.ID, BANGKA TENGAH – Ketua Gerakan Pemuda Peduli Lingkungan dan Warga Kurang Mampu (GPPL-WKM) Bangka Tengah (Bateng) Erwin menyoroti masalah akan beroperasinya Ponton Isap Produksi (PIP) di wilayah Desa Baru Beriga IUP DU 1584.

    Erwin menilai, hal itu akan menimbulkan polemik dan juga kerusuhan di kalangan masyarakat Beriga yang mayoritasnya menolak akan adanya aktivitas tambang di laut mereka karena akan berdampak pada ekosistem laut nantinya.

    “Masyarakat Beriga ini mayoritasnya adalah nelayan yang penghasilan mereka dari laut. Kalau nanti PIP ada di laut mereka damerusakk maka akan menimbulkan perpecahan,” ucapnya kepada intrik.id, Senin (26/6/2023).

    Ia menyebutkan, jika adanya PIP di Desa Batu Beriga bertentangan dengan misi Bangka Tengah yang akan meluaskan pariwisata hingga ke ujung Bangka Tengah.

    Space Iklan/0853-1197-2121

    “Kita gaungkan pariwisata, tapi ekosistem dan alam kita hancurkan. Itukan bertentangan. Belum lagi nanti gesekan dan dampaknya terhadap nelayan dan lingkungan. Jelas bertentangan dengan pariwisata lah,” ungkapnya.

    Erwin mengatakan, jika PIP akan beroperasi di Beriga, maka akan menambah rusaknya terumbu karang, ekosistem laut dan tercemarnya laut akibat limbah Kapal Isap Produksi (KIP) yang ada nanti.

    “Kalau setiap hari misalnya KIP atau PIP ini menghasilkan 2000 meter kubik limbah perhari, maka sudah pasti hancurnya terumbu karang dan rusaknya ekosistemnya laut yang akan mengurangi produksi ikan kita di Bangka Tengah ini, ” ujarnya.

    Erwin menyebutkan, peran pemerintah daerah dalam membuka puang investasi dan usaha agar masyarakat tidak lagi bergantung dengan komoditi timah.

    Space Iklan/0853-1197-2121

    “Optimalkan investasi dan juga komoditi pengganti timah harus kita cari. Makanya pemerintah harus lebih peka terhadap ini. Kalau sudah maksimal, warga juga lambat laun tidak tergantung lagi dengan komoditi timah, ” tegasnya.

    Menurut Wahana Lingkungan Hidup Indonesia, ada 5270 hektare terumbu karang yang rusak dan hancur karena KIP dan PIP yang beroperasi di laut Bangka Belitung.

    Hal itu berdampak langsung dengan produksi ikan yang sekarang berkurang karena banyaknya Kapal isap dan ponton isap yang beroperasi di peraturan laut Bangka Belitung ini.

    “Beriga itu termasuk daerah penghasil ikan terbesar di Bangka Tengah. Kalau PIP atau KIP ada di sana, Desa Beriga akan menjadi Matras kedua yang akhirnya para nelayan malah memilih menambang dari pada melaut tanpa hasil. Hal inilah yang akan memicu kembali penambahan kerusakan ekosistem laut yang akan merambah ke hutan sekitaran PIP tersebut, ” lanjut Erwin.

    Ia berharap, Bupati Bangka Tengah tegas membela dan berada dipihak masyarakat.

    Mungkin Suka Ini juga:
    Gas 3 Kg Langka, Tina dan Putri Terpaksa Harus Pinjam ke Tetangga

    Gas 3 Kg Langka, Tina dan Putri Terpaksa Harus Pinjam ke Tetangga

    Warga Kurau Terima Ratusan Sertifikat Gratis dan Puluhan Rumah Swadaya

    Warga Kurau Terima Ratusan Sertifikat Gratis dan Puluhan Rumah Swadaya

    Polres Bateng Akan Panggil dan Periksa Ac Terkait Tambang di Komplek Pemda

    Polres Bateng Akan Panggil dan Periksa Ac Terkait Tambang di Komplek Pemda

    Pemindahan Meteran Listrik Tak Kunjung Selesai, Kepala PLN Koba Minta Maaf

    Pemindahan Meteran Listrik Tak Kunjung Selesai, Kepala PLN Koba Minta Maaf

    Kades Kecam PLN ULP Koba, Pergeseran KWh Meter Warganya Tak Kunjung Selesai

    Kades Kecam PLN ULP Koba, Pergeseran KWh Meter Warganya Tak Kunjung Selesai

    Kekerasan Seksual Terhadap Anak di Bangka Tengah Naik, Wiwik: Lihat Sisi Positifnya

    Kekerasan Seksual Terhadap Anak di Bangka Tengah Naik, Wiwik: Lihat Sisi Positifnya

      Ikuti kami di Facebook