
Menurutnya, UMKM perlu memahami karakteristik pasar tujuan, memenuhi sertifikasi dan legalitas, menetapkan harga secara tepat, menghitung biaya logistik, membangun relasi dengan buyer hingga memastikan kontrak dagang memberikan kepastian bagi seluruh pihak.
BI menggandeng Akademi Mudah Ekspor untuk memberikan pembekalan yang lebih praktis kepada pelaku UMKM.
Materi yang diberikan mencakup penentuan harga ekspor, pengelolaan biaya logistik, pembangunan digital presence, pencarian buyer melalui kanal digital, negosiasi dan kontrak dagang hingga penyusunan strategi ekspor berbasis studi kasus.
Pembekalan tersebut diarahkan agar pelaku UMKM tidak hanya memahami prosedur administratif ekspor, tetapi juga mampu menghitung risiko dan menentukan strategi masuk ke pasar internasional.
Salah satu tantangan yang menjadi perhatian adalah bagaimana produk lokal tidak berhenti pada kemampuan produksi, tetapi mampu memenuhi standar, menjaga kualitas dan menyesuaikan diri dengan kebutuhan pasar tujuan.
Pembelajaran kemudian dilanjutkan melalui site visit ke dua UMKM binaan Kantor Perwakilan BI Provinsi DKI Jakarta, yakni Kultiva Co. dan Minang Kakao.
Kultiva Co. menjadi contoh pengembangan pangan olahan berbasis bahan baku lokal yang telah menjangkau pasar ekspor. Peserta mempelajari bagaimana inovasi produk, standardisasi, konsistensi mutu dan kemasan menjadi bagian dari strategi menembus pasar internasional.
Sementara Minang Kakao memberikan gambaran mengenai pengembangan komoditas kakao melalui konsep farm-to-bar, mulai dari pengolahan biji kakao hingga menjadi produk cokelat bernilai tambah.