Dulu Meriahkan Kampanye Prabowo-Gibran, Kini Publik Menanti Suara Artis soal Karhutla

    Caption: Kampanye Prabowo-Gibran.

    INTRIK.ID — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah wilayah Indonesia kembali memunculkan pertanyaan tentang peran artis dan influencer dalam menyuarakan persoalan publik. Di tengah sorotan terhadap dampak asap dan kerusakan lingkungan, muncul kritik terhadap figur publik yang dinilai belum memanfaatkan pengaruhnya untuk mendorong perhatian terhadap bencana tersebut.

    Sorotan itu salah satunya datang dari Vicky Prasetyo. Ia menyentil kalangan artis dan influencer yang dianggap kurang bersuara mengenai karhutla, padahal memiliki pengikut dalam jumlah besar di media sosial.

    Dalam kritiknya, Vicky mempertanyakan keberanian para figur publik untuk menggunakan pengaruh mereka demi menyuarakan penyelamatan hutan.

    “Nyali kalian di mana?” demikian salah satu pernyataan Vicky yang diberitakan Suara.com pada 16 Oktober 2026.

    Ia juga mengkritik penggunaan media sosial yang dinilainya lebih ramai untuk urusan popularitas dibandingkan persoalan yang menyangkut kepentingan masyarakat.

    Deretan artis pernah hadir di panggung kampanye

    Perdebatan ini menarik jika dikaitkan dengan keterlibatan sejumlah selebritas dalam kampanye akbar pasangan Prabowo Subianto–Gibran Rakabuming Raka pada Pilpres 2024.

    Kampanye bertajuk Pesta Rakyat untuk Indonesia Maju yang digelar di Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, pada Februari 2024 itu diramaikan sejumlah artis dan figur publik.

    Berdasarkan pemberitaan media, nama-nama yang hadir antara lain Raffi Ahmad, Nagita Slavina, Andre Taulany, Gading Marten, Desta Mahendra, Atta Halilintar, Aurel Hermansyah, Ria Ricis, Celine Evangelista, dan Tarra Budiman.

    Kehadiran mereka di acara kampanye menjadi bagian dari dinamika dukungan figur publik dalam kontestasi politik nasional. Namun, kehadiran di panggung kampanye tidak serta-merta membuktikan bahwa seseorang mendukung setiap kebijakan pemerintah atau wajib menyampaikan pendapat politik tertentu.

    Pertanyaan yang lebih relevan ialah sejauh mana figur publik memanfaatkan jangkauan media sosialnya untuk menyampaikan persoalan yang berdampak luas, termasuk bencana lingkungan.

    Karhutla bukan sekadar persoalan hutan

    Karhutla bukan hanya masalah pohon dan lahan yang terbakar. Asap yang ditimbulkan dapat mengganggu aktivitas masyarakat, menurunkan kualitas udara, serta meningkatkan risiko gangguan kesehatan.

    Reuters melaporkan pada 13 Oktober 2026 bahwa kebakaran yang meluas di Indonesia telah meningkatkan tekanan terhadap pemerintah. Dampak asap juga dirasakan negara tetangga, termasuk Malaysia dan Singapura.

    Laporan tersebut menyebutkan bahwa pemerintah Indonesia menghadapi desakan untuk memperkuat penanganan kebakaran, sementara sejumlah wilayah mengalami peningkatan kasus gangguan pernapasan yang dikaitkan dengan asap.

    Dalam situasi seperti ini, suara figur publik berpotensi membantu memperluas perhatian masyarakat terhadap kondisi warga terdampak, kebutuhan penanganan darurat, hingga pentingnya pencegahan kebakaran berulang.

    Namun, kepedulian tidak harus selalu diwujudkan melalui kritik terhadap pemerintah. Penyebaran informasi yang terverifikasi, dukungan terhadap warga terdampak, serta edukasi mengenai perlindungan lingkungan juga dapat menjadi bentuk kontribusi.

    Tidak semua artis memilih diam

    Di tengah kritik terhadap figur publik, sejumlah selebritas justru diberitakan menyuarakan keprihatinan terhadap karhutla di Kalimantan.

    Okezone Celebrity pada 14 Oktober 2026 melaporkan keterlibatan Teuku Wisnu, Nana Mirdad, Denny Sumargo, dan Luna Maya dalam menyoroti persoalan tersebut. Bentuk respons mereka beragam, mulai dari menyampaikan keprihatinan hingga mengajak masyarakat memberikan perhatian dan bantuan.

    Fakta ini menunjukkan bahwa anggapan seluruh artis bungkam tidak tepat. Selain itu, tidak adanya pernyataan yang ditemukan di media sosial seseorang belum cukup untuk menyimpulkan bahwa orang tersebut sama sekali tidak peduli atau tidak melakukan tindakan apa pun.

    Karena itu, kritik Vicky Prasetyo lebih tepat dibaca sebagai dorongan agar figur publik menggunakan pengaruhnya untuk kepentingan yang lebih luas, bukan sebagai bukti bahwa setiap artis yang pernah hadir dalam kampanye politik kini memilih diam.

    Publik menunggu kepedulian yang nyata

    Pada akhirnya, persoalan ini bukan semata-mata tentang siapa yang pernah berdiri di panggung kampanye dan siapa yang tidak mengunggah pernyataan di media sosial.

    Publik memiliki alasan untuk berharap agar figur publik ikut memberikan perhatian terhadap persoalan yang menyangkut keselamatan masyarakat. Popularitas dan jumlah pengikut dapat menjadi sarana untuk menyebarkan informasi penting, menggalang dukungan kemanusiaan, serta mendorong penanganan bencana yang lebih serius.

    Di sisi lain, penilaian terhadap sikap seseorang harus didasarkan pada bukti yang dapat diperiksa, bukan asumsi atau afiliasi politik semata.

    Ketika karhutla terus menjadi persoalan, ukuran kepedulian seharusnya tidak berhenti pada unggahan atau pernyataan. Yang lebih penting ialah apakah perhatian tersebut membantu masyarakat memahami masalah dan mendorong tindakan nyata untuk melindungi manusia serta lingkungan.

      Ikuti kami di Facebook