
INTRIK.ID — Dedi Mulyadi atau yang akrab disapa Kang Dedi Mulyadi (KDM) punya cara tersendiri dalam membangun kedekatan dengan masyarakat. Berbalut pakaian khas Sunda, berbicara dengan bahasa yang membumi, dan kerap hadir langsung di tengah warga, ia membangun citra pemimpin yang tidak berjarak dengan rakyat.
Namun, perjalanan KDM bukan sekadar cerita tentang popularitas dan gaya kepemimpinan yang menarik perhatian publik. Di balik sosok yang dikenal luas melalui media sosial itu, terdapat perjalanan politik panjang yang membawanya dari anggota DPRD Purwakarta hingga menduduki kursi Gubernur Jawa Barat.
Kini, tantangannya jauh lebih besar. Memimpin sebuah provinsi dengan puluhan juta penduduk menuntut lebih dari sekadar kemampuan berkomunikasi dengan masyarakat. KDM harus memastikan kebijakan, anggaran, dan program pembangunan berjalan sesuai kebutuhan warga.
Perkembangan terbaru terlihat dari keputusan Pemerintah Provinsi Jawa Barat yang membatalkan rencana pinjaman Rp3,4 triliun dari PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI). KDM memastikan pembangunan infrastruktur tetap berjalan, meski mengakui adanya kemungkinan penundaan pembayaran sejumlah pekerjaan ke tahun anggaran 2027. (ANTARA, 23 Oktober 2026).
Dedi Mulyadi lahir di Subang, Jawa Barat, pada April 1971. Ia menempuh pendidikan hingga perguruan tinggi di bidang hukum di Sekolah Tinggi Hukum Purnawarman, Purwakarta.
Sebelum masuk ke lingkaran pemerintahan, Dedi aktif dalam organisasi mahasiswa dan sejumlah organisasi kemasyarakatan. Pengalaman tersebut menjadi bagian dari perjalanan politiknya yang dimulai melalui Partai Golkar.
Pada 1999, Dedi terpilih sebagai anggota DPRD Kabupaten Purwakarta. Kariernya kemudian berlanjut ketika ia menjabat Wakil Bupati Purwakarta pada 2003–2008, mendampingi Lily Hambali Hasan.
Lima tahun kemudian, Dedi naik menjadi Bupati Purwakarta. Ia kembali terpilih untuk periode kedua dan memimpin daerah tersebut hingga 2018.
Selama menjabat bupati, Dedi dikenal menaruh perhatian pada identitas budaya Sunda. Unsur tradisi, kesenian, bahasa, dan simbol budaya menjadi bagian yang menonjol dalam pendekatan pemerintahannya.
Gaya tersebut membentuk karakter politik yang berbeda dari sebagian kepala daerah lain. Budaya lokal tidak hanya menjadi ornamen seremonial, tetapi juga digunakan sebagai identitas dalam komunikasi pemerintahan.
Rekam jejaknya kemudian berlanjut ke tingkat nasional. Dedi menjadi anggota DPR RI periode 2019–2024 dan pernah bertugas di Komisi IV yang membidangi pertanian, lingkungan hidup, kehutanan, serta kelautan dan perikanan.
Setelah meninggalkan Golkar dan bergabung dengan Gerindra, ia kembali mengikuti kontestasi Pilkada Jawa Barat 2024. Kali ini, Dedi berpasangan dengan Erwan Setiawan dan berhasil memenangkan pemilihan.
Pada 20 Februari 2025, keduanya dilantik sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat periode 2025–2030.
Salah satu hal yang membuat KDM berbeda adalah cara ia berkomunikasi dengan masyarakat.
Kunjungan ke kampung, pertemuan dengan warga, penanganan persoalan sosial, hingga dialog spontan kerap menjadi konten yang disebarluaskan melalui media sosial.
Pola komunikasi tersebut membuat aktivitas seorang kepala daerah dapat disaksikan langsung oleh masyarakat tanpa harus menunggu pemberitaan resmi pemerintah.
Bagi KDM, media sosial bukan sekadar sarana menyampaikan agenda pemerintahan. Platform digital juga menjadi ruang untuk memperlihatkan persoalan yang ditemuinya di lapangan dan respons yang diberikan kepada warga.
Pendekatan ini memiliki kelebihan: persoalan lokal dapat memperoleh perhatian lebih luas, sementara masyarakat bisa mengikuti aktivitas pemimpinnya secara langsung.
Namun, popularitas digital dan kinerja pemerintahan merupakan dua hal berbeda. Video yang ramai ditonton belum tentu menggambarkan keseluruhan hasil suatu kebijakan.
Sebuah program tetap perlu dinilai melalui data pelaksanaan, anggaran yang digunakan, manfaat yang diterima masyarakat, serta keberlanjutannya setelah perhatian publik beralih ke isu lain.
Selama berkarier, Dedi dikenal dengan pendekatan yang menekankan budaya lokal, kedisiplinan, dan penanganan persoalan sosial secara langsung.
Ketika menjadi Gubernur Jawa Barat, gaya tersebut berlanjut dalam sejumlah program yang menyentuh kehidupan masyarakat, termasuk pembinaan remaja dan pelayanan publik yang mendekat ke warga.
Pemerintah Provinsi Jawa Barat juga mengembangkan program Abdi Nagri Nganjang ka Warga, yakni layanan pemerintahan yang dibawa langsung ke tengah masyarakat.
Meski demikian, kebijakan yang menyentuh kehidupan pribadi dan sosial masyarakat tidak selalu diterima dengan pandangan yang sama.
Perdebatan muncul ketika pemerintah menerapkan pendekatan disiplin terhadap pelajar bermasalah, mengatur kegiatan pendidikan, atau mengusulkan kebijakan sosial yang berpengaruh terhadap keluarga.
Dalam situasi seperti itu, niat menyelesaikan persoalan perlu berjalan seiring dengan landasan hukum, perlindungan hak warga, efektivitas program, dan mekanisme pengawasan.
Bagi seorang kepala daerah, respons publik bukan satu-satunya ukuran. Yang tidak kalah penting adalah bagaimana kebijakan dirancang, dilaksanakan, dan dievaluasi berdasarkan bukti.
Memasuki 2026, pekerjaan KDM tidak hanya berkaitan dengan pelayanan sosial dan komunikasi publik. Ia juga harus menghadapi persoalan pembiayaan pembangunan di tengah keterbatasan ruang fiskal daerah.
Pada 23 Oktober 2026, ANTARA melaporkan bahwa Pemprov Jawa Barat memastikan proyek infrastruktur tetap berjalan setelah rencana pinjaman Rp3,4 triliun dari PT SMI batal direalisasikan.
KDM menyatakan anggaran yang tersedia akan diprioritaskan untuk pembangunan infrastruktur dasar dan kebutuhan yang dinilai mendesak. Sejumlah belanja lain berpotensi digeser ke tahun berikutnya.
Ia juga mengakui kemungkinan adanya skema tunda bayar untuk pekerjaan tahun anggaran 2026 yang pembayarannya dilakukan pada 2027.
Situasi tersebut memperlihatkan persoalan mendasar dalam pengelolaan pemerintahan: kebutuhan pembangunan tidak selalu sejalan dengan ketersediaan uang pada saat yang sama.
Pembangunan jalan, misalnya, bukan hanya persoalan memastikan alat berat bekerja dan proyek selesai. Pemerintah juga harus memastikan kewajiban pembayaran kepada kontraktor dikelola secara tertib, jadwal anggaran realistis, serta pelayanan publik lainnya tidak terabaikan.
Karena itu, keputusan membatalkan pinjaman perlu dilihat bersama konsekuensi fiskalnya. Tidak mengambil pinjaman berarti menghindari beban bunga, tetapi penundaan pembayaran juga harus dikelola secara hati-hati agar tidak menimbulkan persoalan baru.
Keberhasilan kebijakan tersebut pada akhirnya perlu diukur melalui penyelesaian proyek, kepatuhan pembayaran, kondisi APBD, dan manfaat pembangunan bagi masyarakat.
Perjalanan Dedi Mulyadi memperlihatkan bagaimana seorang politisi daerah dapat membangun identitas yang kuat melalui budaya, komunikasi langsung, dan pemanfaatan media sosial.
Dari Purwakarta hingga Gedung Pakuan, ia membawa gaya kepemimpinan yang mudah dikenali masyarakat. Akan tetapi, skala tanggung jawabnya kini jauh lebih luas dibandingkan ketika memimpin satu kabupaten.
Jawa Barat membutuhkan pembangunan infrastruktur yang merata, layanan pendidikan dan kesehatan yang berkualitas, pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan, serta pemerintahan yang mampu mempertanggungjawabkan setiap rupiah anggaran.
KDM memiliki ruang untuk menerjemahkan pendekatan populernya menjadi hasil pembangunan yang terukur. Namun, keberhasilannya tidak cukup ditentukan oleh seberapa sering ia hadir di tengah warga atau seberapa luas kontennya tersebar di media sosial.
Pada akhirnya, masyarakat akan menilai kepemimpinannya melalui perubahan yang benar-benar dirasakan: jalan yang selesai dan terpelihara, layanan publik yang membaik, anggaran yang dikelola secara bertanggung jawab, serta program yang manfaatnya dapat dibuktikan.
Sebab, menjadi pemimpin yang dekat dengan rakyat adalah satu hal. Memastikan pemerintahan bekerja efektif untuk rakyat merupakan tantangan yang berbeda.