
INTRIK.ID, JAKARTA — Cadangan Pertalite nasional berada di kisaran 16–20 hari, menurut pernyataan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia di tengah lonjakan harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) yang mencapai US$105–106 per barel.
Bahlil menyatakan cadangan sejumlah jenis BBM lain, termasuk Pertamax dan solar, berada di atas 20 hari. Pemerintah menyebut stok nasional masih terjaga, tetapi kelancaran distribusi menjadi tantangan yang perlu mendapat perhatian.
“Untuk di sektor BBM, saya dapat pastikan bahwa cadangan nasional kita rata-rata, minus Pertalite yang RON 90 sekarang di angka 16 sampai 20 hari. Kemudian selebihnya untuk bentuk BBM yang lain itu rata-rata di atas 20 hari,” kata Bahlil.
Angka ketahanan stok tersebut bukan berarti Pertalite akan otomatis habis setelah 16–20 hari. Persediaan BBM terus bergerak karena pasokan masuk dan bahan bakar disalurkan untuk memenuhi konsumsi masyarakat. Karena itu, kondisi distribusi dan kemampuan menjaga pasokan tetap penting untuk memastikan kebutuhan konsumen terpenuhi.
Di sisi lain, harga ICP yang menembus US$100 per barel menambah tekanan di tengah ketidakpastian pasar energi global. Bahlil menyebut rata-rata ICP sejak Januari hingga Oktober 2026 berada di kisaran US$91–92 per barel.
Persoalan pasokan bukan hanya menyangkut jumlah stok nasional. Gangguan pengiriman dapat membuat ketersediaan BBM di suatu daerah berbeda dari kondisi nasional.
Bali menjadi salah satu contoh. Pemerintah sebelumnya menghadapi kendala pasokan akibat keterlambatan kapal pengangkut BBM dari Jawa. Bahlil menyebut cadangan BBM di Bali sempat turun hingga sekitar tiga sampai empat hari sebelum kembali meningkat.
Dalam perkembangan pada Senin (19/10/2026), pemerintah menyatakan cadangan BBM Bali telah kembali ke kisaran 11–12 hari. Pemerintah kemudian mengerahkan tambahan kapal untuk memperkuat pasokan dan menaikkan target cadangan menjadi 15 hari.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa ketahanan energi tidak cukup diukur dari stok yang tersedia secara nasional. Ketersediaan kapal, kelancaran pengiriman, fasilitas penyimpanan, dan distribusi menuju stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) turut menentukan pasokan yang diterima masyarakat.
Pemerintah menyatakan akan memperkuat distribusi ke sejumlah wilayah. Evaluasi juga dilakukan terhadap pengiriman BBM di daerah yang bergantung pada jalur sungai maupun laut, termasuk wilayah yang menghadapi kendala transportasi.
Bagi masyarakat, kepastian pasokan di tingkat daerah menjadi hal yang paling terasa. Stok nasional yang dinyatakan aman tidak otomatis menjamin setiap SPBU memiliki persediaan yang sama pada waktu bersamaan.
Dengan harga minyak yang tinggi dan ketahanan stok Pertalite yang disebut berada pada kisaran belasan hari, perhatian berikutnya tertuju pada kemampuan pemerintah dan Pertamina menjaga pasokan tetap berkelanjutan serta mengantisipasi gangguan distribusi.
Tantangannya bukan sekadar memastikan BBM tersedia di atas kertas, melainkan memastikan bahan bakar sampai ke masyarakat tepat waktu dan tanpa gangguan berkepanjangan. (*)