
Di sisi lain, harga ICP yang menembus US$100 per barel menambah tekanan di tengah ketidakpastian pasar energi global. Bahlil menyebut rata-rata ICP sejak Januari hingga Oktober 2026 berada di kisaran US$91–92 per barel.
Persoalan pasokan bukan hanya menyangkut jumlah stok nasional. Gangguan pengiriman dapat membuat ketersediaan BBM di suatu daerah berbeda dari kondisi nasional.
Bali menjadi salah satu contoh. Pemerintah sebelumnya menghadapi kendala pasokan akibat keterlambatan kapal pengangkut BBM dari Jawa. Bahlil menyebut cadangan BBM di Bali sempat turun hingga sekitar tiga sampai empat hari sebelum kembali meningkat.
Dalam perkembangan pada Senin (19/10/2026), pemerintah menyatakan cadangan BBM Bali telah kembali ke kisaran 11–12 hari. Pemerintah kemudian mengerahkan tambahan kapal untuk memperkuat pasokan dan menaikkan target cadangan menjadi 15 hari.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa ketahanan energi tidak cukup diukur dari stok yang tersedia secara nasional. Ketersediaan kapal, kelancaran pengiriman, fasilitas penyimpanan, dan distribusi menuju stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) turut menentukan pasokan yang diterima masyarakat.
Pemerintah menyatakan akan memperkuat distribusi ke sejumlah wilayah. Evaluasi juga dilakukan terhadap pengiriman BBM di daerah yang bergantung pada jalur sungai maupun laut, termasuk wilayah yang menghadapi kendala transportasi.