
Sementara itu, Rumah Wakaf selaku nazhir dan implementator menjelaskan bahwa pembangunan dimulai awal Juli lalu dan dalam waktu sepuluh hari berhasil digali sumur dengan kedalaman 32 meter serta debit air 400 liter per jam. Air bersih kemudian ditampung dalam toren air berkapasitas 1000 liter lengkap dengan pompa, sehingga kini dapat memenuhi kebutuhan 306 siswa dan guru, sekaligus masyarakat sekitar.
“Hari ini kita tidak hanya meresmikan sebuah sumur, tetapi melangitkan harapan. Harapan agar kebaikan dari setiap tetes air menjadi pahala jariyah bagi semua wakif hingga akhirat kelak. Terima kasih kepada Bank Indonesia Perwakilan Bangka Belitung, BWI, Kementerian Agama, Pemerintah Daerah, dan para wakif yang telah mendukung terwujudnya program ini,” ujar Yesi M. Indira, S.P., MBA., Head of Communication & Impact Rumah Wakaf.
Pembangunan sumur wakaf ini juga sejalan dengan prinsip Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya tujuan nomor 6 tentang Air Bersih dan Sanitasi Layak. Kehadiran sumber air bersih yang berkesinambungan di sekolah dan lingkungan sekitar tidak hanya mendukung kesehatan dan kenyamanan belajar, tetapi juga menunjukkan bahwa wakaf digital mampu berkontribusi langsung pada pencapaian agenda pembangunan global yang inklusif dan berkelanjutan.
Dengan hadirnya sumur wakaf ini, SDN 5 Parittiga dan masyarakat sekitar kini memiliki akses air bersih yang lebih layak dan berkelanjutan. Program ini menunjukkan bahwa wakaf bukan hanya ibadah bernilai spiritual, tetapi juga instrumen sosial yang mampu menjawab tantangan nyata di tengah masyarakat. Semoga inisiatif ini menjadi pemantik lahirnya lebih banyak gerakan wakaf produktif di Bangka Belitung, sehingga manfaatnya terus meluas dan menghadirkan kesejahteraan yang inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat. (*)