
Plt. Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Dika Prasetya Putra, menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh pihak yang terlibat.
“Keberhasilan wakaf sumur ini adalah wujud nyata bahwa kolaborasi antara masyarakat, lembaga wakaf, dan institusi seperti Bank Indonesia mampu menghadirkan manfaat sosial yang berkelanjutan. Semoga inisiatif ini menjadi inspirasi untuk lebih banyak program wakaf di Bangka Belitung,” ujarnya.
Bank Indonesia menekankan bahwa wakaf merupakan instrumen penting dalam pengembangan ekonomi dan keuangan syariah. Potensi wakaf di Indonesia sangat besar-potensi wakaf uang mencapai Rp180 triliun per tahun—namun realisasinya baru sekitar 2% dari total potensi. Rendahnya literasi wakaf menjadi tantangan besar, termasuk di Bangka Belitung yang indeks literasinya masih di bawah rata-rata nasional. Karena itu, Bank Indonesia terus mendorong literasi dan inklusi wakaf digital melalui inovasi, seperti aplikasi Rumah Wakaf dan Satu Wakaf, agar masyarakat dapat menyalurkan wakaf secara lebih mudah, transparan, dan terpercaya.
Kepala Sekolah SDN 5 Parittiga, Bapak Kartolo turut berbagi cerita mengenai kondisi sebelum adanya sumur wakaf.
“Dulu anak-anak kami harus membawa botol 1,5 liter dari rumah setiap hari untuk kebutuhan minum maupun wudhu. Saat musim kemarau, sumur lama sering kering sehingga kami bahkan terpaksa membeli air dalam drum. Kini, dengan adanya sumur wakaf, anak-anak bisa belajar lebih nyaman tanpa dibebani masalah air,” ungkapnya.