Bali dan Ujian Keramahan: Ketika Turis Lokal Merasa Diperlakukan Berbeda

    Caption: Ilustrasi turis lokal di Bali.

    INTRIK.ID, BALI- Bali selama bertahun-tahun dikenal sebagai salah satu destinasi wisata favorit dunia. Keindahan alam, budaya, kuliner hingga keramahan masyarakat menjadi bagian dari alasan wisatawan datang ke Pulau Dewata.

    Namun, di balik gemerlap pariwisata Bali, muncul persoalan yang patut menjadi perhatian: keluhan wisatawan lokal mengenai pelayanan yang dinilai kurang ramah dibandingkan wisatawan asing.

    Persoalan ini bukan sekadar soal senyum atau keramahan petugas. Bagi wisatawan, pelayanan merupakan bagian dari pengalaman ketika mengeluarkan uang untuk menikmati sebuah destinasi.

    Ketika wisatawan domestik merasa diperlakukan berbeda, muncul pertanyaan yang lebih besar: apakah wisatawan lokal benar-benar mendapatkan pengalaman yang sama dengan wisatawan asing ketika menggunakan jasa pariwisata di Bali?

    Pertanyaan tersebut kembali mencuat setelah sejumlah pengalaman wisatawan lokal menjadi perhatian publik.

    Ria Ricis Batal Naik Helikopter

    Salah satu yang terbaru datang dari selebritas sekaligus kreator konten Ria Ricis.

    Ricis mengaku kecewa dengan pelayanan yang diterimanya ketika hendak menggunakan jasa penerbangan helikopter di Bali. Kekecewaan tersebut bahkan membuatnya memilih membatalkan penerbangan.

    Dalam video yang diunggahnya, Ricis menilai petugas yang melayaninya tidak ramah.

    “Mbak-mbaknya judes, padahal kita udah bayar,” ujar Ricis dalam videonya, dikutip detikBali.

    Ia kemudian membandingkan sikap pelayanan yang dilihatnya ketika petugas berhadapan dengan wisatawan asing.

    “Kalau sama bule senyum, sama kita judes,” katanya. (detik.com)

    Keluhan itu kemudian mendapat respons dari pihak Fly Bali Helicopter. Manajemen menyampaikan permintaan maaf atas pengalaman yang dialami Ricis dan memberikan klarifikasi mengenai kondisi pelayanan di lokasi.

    Pihak perusahaan juga menyatakan tidak memiliki kebijakan untuk membedakan pelayanan antara wisatawan domestik dan wisatawan asing.

    Wisatawan Lokal Juga Pernah Mengeluh

    Keluhan serupa sebelumnya muncul dalam kasus berbeda di Pantai Blue Lagoon, Padangbai, Karangasem.

    Sebuah video wisatawan lokal viral setelah yang bersangkutan mengaku diminta meninggalkan lokasi karena akan ada wisatawan asing.

    Wisatawan tersebut mengaku belum selesai makan dan masih ingin melakukan aktivitas snorkeling ketika diminta pergi.

    Kasus tersebut kemudian mendapat sorotan karena menyentuh persoalan yang lebih luas mengenai bagaimana wisatawan domestik diperlakukan di destinasi yang juga menjadi tujuan wisatawan mancanegara.

    Ketua PHRI Karangasem I Wayan Kariasa ketika itu menyayangkan apabila wisatawan mendapatkan perlakuan berbeda. Menurutnya, wisatawan asing maupun domestik sama-sama berhak memperoleh pelayanan yang baik. (detik.com)

    Jangan Sampai Wisatawan Lokal Merasa Jadi Tamu Kelas Dua

    Dua kasus tersebut tentu belum cukup untuk menyimpulkan bahwa seluruh pelaku pariwisata Bali membedakan wisatawan lokal dan asing.

    Namun, pengalaman yang viral di media sosial menunjukkan satu hal yang tidak bisa diabaikan: persepsi wisatawan terhadap pelayanan dapat memengaruhi citra sebuah destinasi.

    Bali tidak hanya menjual pantai, pura, hotel mewah atau pemandangan alam.

    Bali juga menjual pengalaman.

    Dan pengalaman itu dibentuk sejak wisatawan datang, membeli tiket, menggunakan transportasi, makan di restoran, menginap di hotel hingga meninggalkan destinasi.

    Jika wisatawan asing mendapat senyum, sementara wisatawan lokal justru merasa mendapat perlakuan berbeda, persoalannya menjadi lebih serius daripada sekadar seorang petugas yang dianggap kurang ramah.

    Sebab wisatawan lokal juga datang dengan uang, menghabiskan waktu dan ikut menggerakkan roda ekonomi pariwisata.

    Karena itu, tantangan bagi industri pariwisata Bali bukan hanya bagaimana mendatangkan semakin banyak wisatawan, tetapi juga memastikan setiap wisatawan pulang membawa pengalaman yang baik.

    Pada akhirnya, keramahan seharusnya tidak mengenal paspor.

    Turis asing datang sebagai tamu. Turis lokal juga datang sebagai tamu. Yang membedakan seharusnya bukan senyum pelayanannya.

      Ikuti kami di Facebook