
Ahmadi juga mengungkapkan, ketidak kreatifan dari Dewan Kesenian karena kurang paham dengan kemajuan budaya dan teknologi saat ini. Hal itu membuat dewan kesenian tak berguna.
“Disini saya melihat ketidakkreatifan dari pihak pemerintah. Perlu atau tidak Perda, itu tergantung pemahaman pemerintah eksekutif dan legeslatif, tapi soal ini saya jadi tidak yakin, sebab kebanyakan isi di pemerintah itu tidak memahami pentingnya seni dan budaya bagi daerah,” tegasnya.
Ahmdai juga menjelaskan, kepedulian pemerintah hanya sebatas menampilkan seni budaya dalam kegiatan seremonial.
“Kalau cuma seremonial yah tidak cukup untuk bangkitkan seni dan budaya kita. Tapi akar yang kokoh lah yang bisa melestarikan budaya kita,” ungkapnya.
Ahmadi juga menilai, Dewan Kesenian sendiri kadangkala kurang canggih dalam memahami dan mengkondisikan perubahan zaman. Makanya perlu dibangun wawasan kekinian bagaimana menganalisa perubahan zaman sehingga memiliki konsep mengembangkan seni dan budaya daerah yang sedang digeluti dan pastinya harus melibatkan anak-anak muda kreatif.
“Ruang yang ada saat ini sebetulnya sangat terbuka, apalagi dengan kecanggihan teknologi dan “telanjang”-nya media, semua bisa berkreasi dan menunjukkan kreativitas diri. Salah satu imbasnya adalah sisi ekonomi,” ucapnya.