Scroll untuk baca artikel
Provinsi Bangka BelitungPendidikan

Ahmadi: Dewan Kesenian Tidak Kreatif

247
×

Ahmadi: Dewan Kesenian Tidak Kreatif

Sebarkan artikel ini
IMG 20230129 WA0006
Foto: Ahmadi Sofyan. (Ist)

INTRIK.ID, BANGKA TENGAH – Dewan Kesenian Bangka Belitung dinilai mati suri dan tak berguna dalam melestarikan budaya Bangka Belitung asli. Hal ini dikarenakan, gagalnya generasi penerus dalam memahami konteks budaya.

Hal itu disampaikan, Budayawan Bangka Belitung Ahmadi Sofyan saat diwawancarai pihak intrik.id, Minggu (29/1/2023) di Koba.

“Kita akui, Dewan Kesenian tidak aktif alias mati suri pada hari ini. Ini semakin membuat masyarakat kita jauh dari seni dan budaya lokal,” ucapnya.

Orang yang biasa disapa Atok Kulop tersebut menuturkan kurangnya kepedulian masyarakat terhadap keberadaan seni dan budaya daerah yang tidak diturunkan secara turun temurun.

“Selain itu tak adanya niat pemerintah secara serius untuk melestarikan dan tidak kreatifnya dewan kesenian itu sendiri,” tutur penulis buku Atok Kulop tersebut.

“Pemerintah bukan saja tak peduli, tapi tidak tahu mau berbuat apa terhadap seni dan budaya, kecuali menjadikan sekedar serimonial belaka. Padahal dengan adanya Dewan Kesenian itu bagian dari bagaimana konsep seni dan budaya daerah bisa terakomidir, terkoordinir dan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat lokal. Pemerintah wajib peduli dan memperhatikan ekonomi pelaku seni, sehingga mereka mampu berkreasi,” lanjutnya.

Ahmadi juga mengungkapkan, ketidak kreatifan dari Dewan Kesenian karena kurang paham dengan kemajuan budaya dan teknologi saat ini. Hal itu membuat dewan kesenian tak berguna.

“Disini saya melihat ketidakkreatifan dari pihak pemerintah. Perlu atau tidak Perda, itu tergantung pemahaman pemerintah eksekutif dan legeslatif, tapi soal ini saya jadi tidak yakin, sebab kebanyakan isi di pemerintah itu tidak memahami pentingnya seni dan budaya bagi daerah,” tegasnya.

Ahmdai juga menjelaskan, kepedulian pemerintah hanya sebatas menampilkan seni budaya dalam kegiatan seremonial.

“Kalau cuma seremonial yah tidak cukup untuk bangkitkan seni dan budaya kita. Tapi akar yang kokoh lah yang bisa melestarikan budaya kita,” ungkapnya.

Ahmadi juga menilai, Dewan Kesenian sendiri kadangkala kurang canggih dalam memahami dan mengkondisikan perubahan zaman. Makanya perlu dibangun wawasan kekinian bagaimana menganalisa perubahan zaman sehingga memiliki konsep mengembangkan seni dan budaya daerah yang sedang digeluti dan pastinya harus melibatkan anak-anak muda kreatif.

“Ruang yang ada saat ini sebetulnya sangat terbuka, apalagi dengan kecanggihan teknologi dan “telanjang”-nya media, semua bisa berkreasi dan menunjukkan kreativitas diri. Salah satu imbasnya adalah sisi ekonomi,” ucapnya.

Ahmadi juga menghimbau agar kekompakan para pelaku seni dan budaya termasuk yang tergabung dalam Dewan Kesenian selalu dijaga karena kekompakan salah satu faktor untuk menentukan tidak sehatnya sebuah komunitas atau organisasi.

Ahmadi juga berharap, kreativitas pelaku seni yang terlalu jadul/kolot dan tidak kekinian bisa lebih berkembang dan memgikuti jaman.

“Kita masih terpaku pada pakem-pakem. Kalau ada anak muda yang mau mengolah dengan dipadukan seni kekinian, dianggap keluar dari pakem. Padahal banyak generasi muda Babel yang berkiprah di tingkat nasional dalam bidang seni, tapi sayang kurang membawa nilai seni kedaerahan,” harapnya.

Ahmadi juga berpesan agar peran pemerintah yang terlalu kaku dan sangat lokal harus diubah. Harusnya kesenian dan pelaku seni daerah itu bisa dibuat kolaborasi dengan seni daerah lain bahkan bagaimana peran pemerintah bisa kerjasama dengan kedutaan besar, agar pelaku seni dan kesenian daerah bisa show keluar negeri. Kalau ini bisa dilakulan, selain mengangkat nama daerah, juga memotivasi generasi muda untuk berkiprah di dunia seni daerah.

Peran pemerintah yang terlalu kaku dan sangat lokal banget. Harusnya kesenian dan pelaku seni daerah itu bisa dibuat kolaborasi dengan seni daerah lain bahkan bagaimana peran pemerintah bisa kerjasama dengan kedutaan besar, agar pelaku seni dan kesenian daerah bisa show keluar negeri. Kalau ini bisa dilakulan, selain mengangkat nama daerah, juga memotivasi generasi muda untuk berkiprah di dunia seni daerah.

“Terakhir, pemerintah itu wajib paham bahwa seni dan budaya daerah itu sangat penting karena adalah karakter daerah dan karakter bangsa. Negeri yang tidak menghiraukan seni dan budaya adalah negeri yang tidak memiliki karakter, sehingga pasti mudah “ngerasok” atau “dirasok”, baik dari dalam maupun dari luar. Seni dan budaya itu ibaratnya adalah imun tubuh, supaya tidak mudah masuk angin,” tutupnya.(Erwin)