UTS Insearch Bukan Sekadar “Sekolah Gibran”: Ketika Pendidikan Australia Disandingkan dengan SMK Indonesia

    Caption: UTS Insearch. (Ist)

    INTRIK.ID, JAKARTA – Nama UTS Insearch kembali menjadi sorotan setelah riwayat pendidikan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dipersoalkan dalam persidangan di Mahkamah Konstitusi.

    Namun, perdebatan mengenai UTS Insearch seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan apakah lembaga tersebut “sekolah” atau “kampus”. Ada persoalan pendidikan yang jauh lebih menarik: sebenarnya seperti apa UTS Insearch, untuk apa lembaga itu didirikan, dan bagaimana sistem pendidikannya bisa disandingkan dengan pendidikan menengah kejuruan di Indonesia?

    Sebab, UTS Insearch yang kini dikenal sebagai UTS College bukanlah SMA dalam pengertian umum di Indonesia.

    UTS sendiri menjelaskan bahwa UTS College merupakan penyedia pathway menuju University of Technology Sydney (UTS). Lembaga tersebut menyediakan program Academic English, Foundation Studies, serta sejumlah program diploma yang dirancang untuk mengantarkan mahasiswa menuju pendidikan sarjana di UTS.

    Nama Insearch sendiri merupakan nama lama. UTS menjelaskan bahwa UTS Insearch kemudian berganti nama menjadi UTS College untuk memperjelas posisinya sebagai lembaga yang menyediakan jalur menuju program sarjana UTS.

    Dengan kata lain, jika menggunakan kacamata sistem pendidikan Indonesia, menyebut UTS Insearch sebagai “SMA di Australia” tentu terlalu sederhana.

    Dari jalur persiapan hingga materi tingkat perguruan tinggi

    Yang membuat UTS Insearch menarik adalah karakter pendidikannya.

    UTS College saat ini menawarkan berbagai program diploma, antara lain Business, Communication, Design and Architecture, Engineering, Information Technology dan Science. UTS menyebut sebagian diploma tersebut setara dengan tahun pertama pendidikan sarjana dan memungkinkan mahasiswa yang memenuhi persyaratan melanjutkan ke tahun kedua program tertentu di UTS.

    Ada pula Foundation Studies yang ditujukan bagi siswa yang telah menyelesaikan pendidikan setara Year 11.

    Artinya, modelnya bukan sekadar “belajar SMA kemudian lulus”, melainkan mempersiapkan peserta didik agar mampu masuk dan bertahan di pendidikan tinggi.

    Model tersebut juga menjelaskan mengapa materi yang diajarkan dapat terlihat jauh lebih spesifik dibandingkan mata pelajaran SMA Indonesia.

    Dalam sistem pathway Australia, peserta didik dapat mempelajari materi yang sangat dekat dengan dunia perguruan tinggi maupun profesi.

    Dan di sinilah muncul titik penting dalam kasus Gibran.

    Enam mata kuliah yang menjadi titik perbandingan

    Dalam persidangan MK, Kemendikdasmen menjelaskan bahwa riwayat pendidikan Gibran tidak dinilai hanya berdasarkan satu sertifikat.

    Pemerintah menyebut proses penyetaraan dilakukan dengan melihat rangkaian pendidikan dan hasil belajar, termasuk pendidikan di SLTP Negeri 1 Surakarta, Orchid Park Secondary School di Singapura, serta pendidikan di UTS Insearch Australia.

    Untuk pendidikan di UTS Insearch, tim penilai melihat sejumlah mata kuliah, yaitu:

    • Accounting
    • Financial Management
    • Business Law and Ethics
    • Marketing
    • Microeconomics
    • Management

    Mata kuliah tersebut kemudian dibandingkan dengan struktur mata pelajaran pada program keahlian akuntansi dan keuangan SMK di Indonesia. Pemerintah menyatakan perbandingan tidak hanya berdasarkan nama mata pelajaran, tetapi juga learning outcome atau kompetensi yang dihasilkan.

    Di sinilah persoalannya menjadi menarik.

    Disandingkan bukan berarti kedua sistem pendidikan tersebut identik.

    Penyetaraan merupakan proses mencari ekuivalensi berdasarkan kompetensi dan hasil belajar dalam sistem pendidikan yang berbeda.

    Kemendikdasmen sendiri menjelaskan bahwa O-Level yang dimiliki Gibran tidak otomatis diposisikan sebagai ijazah SMA Indonesia. Sertifikat tersebut menjadi bagian dari keseluruhan rekam pendidikan yang kemudian dinilai bersama pendidikan berikutnya.

    Lalu apa bedanya dengan SMK Indonesia?

    Perbedaan paling mendasar terletak pada fungsi lembaga dan jalur pendidikannya.

    SMK Indonesia merupakan pendidikan menengah kejuruan dalam sistem pendidikan nasional. Pemerintah menetapkan standar nasional pendidikan yang mencakup antara lain standar kompetensi lulusan, isi, proses, penilaian, tenaga kependidikan, sarana-prasarana, pengelolaan dan pembiayaan.

    Sementara UTS College merupakan lembaga pendidikan tinggi swasta yang sekaligus berfungsi sebagai penyedia pathway menuju UTS. Regulator Australia, TEQSA, mencatat UTS College sebagai registered private higher education provider dan mencantumkan berbagai program diploma yang terakreditasi.

    Jadi, ada perbedaan struktur yang cukup besar.

    SMK dirancang sebagai bagian dari pendidikan menengah. UTS College dirancang sebagai jembatan menuju pendidikan tinggi.

    Namun, materi tertentu yang dipelajari di UTS Insearch pada periode pendidikan Gibran dapat memiliki kompetensi yang beririsan dengan bidang keahlian SMK. Irisan itulah yang kemudian menjadi salah satu dasar penilaian pemerintah.

    Mengapa mata kuliahnya terasa “lebih tinggi” dari SMA?

    Karena memang beberapa materi tersebut memiliki karakter bisnis dan ekonomi yang lebih spesifik.

    Bayangkan siswa SMK akuntansi Indonesia mempelajari pembukuan, akuntansi, administrasi keuangan, ekonomi dan kompetensi terkait dunia kerja.

    Di sisi lain, peserta program bisnis dalam jalur UTS dapat mempelajari accounting, finance, marketing, economics, management hingga business law.

    Ada irisan kompetensi, tetapi cara penyelenggaraan, level institusi, struktur kurikulum dan sistem kualifikasinya tidak otomatis sama.

    Itulah sebabnya membandingkan satu mata kuliah UTS Insearch dengan satu mata pelajaran SMK secara mentah akan menghasilkan kesimpulan yang terlalu sederhana.

    Yang dibandingkan pemerintah bukan semata-mata nama mata pelajaran.

    Yang menjadi dasar adalah hasil belajar dan kompetensi.

    UTS Insearch juga bukan lembaga “bebas standar”

    Perdebatan publik kadang membuat UTS Insearch seolah-olah merupakan lembaga pendidikan yang berada di luar sistem formal.

    Faktanya, UTS College saat ini merupakan penyedia pendidikan tinggi yang terdaftar di Australia. TEQSA mencatat sejumlah program diplomanya sebagai program yang terakreditasi.

    Bahkan dalam sistem UTS saat ini, diploma tertentu disebut dapat menjadi jalur menuju tahun kedua program sarjana apabila mahasiswa memenuhi persyaratan nilai yang ditentukan.

    Artinya, persoalannya bukan apakah UTS Insearch merupakan lembaga pendidikan “serius” atau bukan.

    Persoalan sebenarnya adalah bagaimana kualifikasi dari sistem pendidikan yang berbeda itu diterjemahkan ke dalam sistem pendidikan Indonesia.

    Perbandingan sederhana

    AspekUTS Insearch/UTS CollegeSMK Indonesia
    SistemAustraliaIndonesia
    Fungsi utamaPathway menuju pendidikan tinggiPendidikan menengah kejuruan
    OrientasiPersiapan akademik dan jalur ke universitasPendidikan menengah sekaligus kompetensi keahlian
    Bidang bisnisAccounting, finance, marketing, management, economics, dan lainnyaAkuntansi, keuangan dan kompetensi kejuruan terkait
    Bahasa utamaInggrisBahasa Indonesia
    Jalur setelah belajarDapat berlanjut ke program sarjana UTS sesuai ketentuanDapat bekerja atau melanjutkan pendidikan tinggi
    PenyetaraanDinilai berdasarkan dokumen dan hasil belajarMengikuti sistem nasional Indonesia

    Perbandingan ini menunjukkan satu hal penting: tidak tepat mengatakan UTS Insearch sama dengan SMK, tetapi juga terlalu sederhana jika mengatakan tidak memiliki titik kompetensi yang dapat dibandingkan dengan SMK.

    Titik kontroversinya justru ada pada proses penyetaraan

    Inilah bagian yang paling penting dari polemik pendidikan Gibran.

    Menurut keterangan pemerintah di MK, permohonan penyetaraan diajukan pada 2019. Tim penilai kemudian melihat kesinambungan seluruh riwayat pendidikan, dokumen pendukung, serta hasil belajar dari sistem pendidikan yang berbeda.

    Kemendikdasmen menjelaskan bahwa proses tersebut menghasilkan kesimpulan bahwa rangkaian pendidikan yang dijalani memiliki kesesuaian dengan program keahlian akuntansi dan keuangan pada jenjang SMK.

    Di sisi lain, Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Canberra dalam persidangan juga memberikan penjelasan penting: pemerintah Australia tidak menyatakan bahwa program pathway secara umum merupakan sesuatu yang setara dengan senior secondary school atau SMA. Pathway pada dasarnya memiliki fungsi mempersiapkan peserta didik menuju pendidikan tinggi.

    Dua fakta tersebut tidak harus dipertentangkan.

    Satu hal berbicara mengenai fungsi asli UTS Insearch dalam sistem pendidikan Australia. Hal lainnya berbicara mengenai hasil penilaian ekuivalensi ketika riwayat pendidikan seseorang dinilai oleh pemerintah Indonesia.

    Inilah yang harus dibedakan.

    Jadi, apakah UTS Insearch adalah “sekolah Gibran”?

    Jika yang dimaksud adalah lembaga pendidikan yang pernah ditempuh Gibran, jawabannya: ya, UTS Insearch tercatat dalam riwayat pendidikannya.

    Tetapi jika istilah “sekolah Gibran” dimaksudkan sebagai SMA yang setara dengan SMA Indonesia, istilah tersebut tidak menggambarkan fungsi UTS Insearch secara tepat.

    UTS Insearch merupakan nama lama dari UTS College, sebuah lembaga yang mempunyai hubungan erat dengan UTS dan menyediakan jalur pendidikan menuju universitas tersebut.

    Karena itu, pertanyaan yang lebih tepat bukan:

    “Apakah UTS Insearch itu SMA?”

    Melainkan:

    “Bagaimana pendidikan yang ditempuh melalui sistem pathway Australia dapat dinilai ekuivalen dalam sistem pendidikan Indonesia?”

    Pertanyaan kedua jauh lebih penting.

    Sebab di balik polemik pendidikan seorang pejabat negara, ada persoalan yang lebih besar: ketika seseorang berpindah sistem pendidikan antarnegara, siapa yang menentukan kesetaraannya, berdasarkan dokumen apa, dan dengan ukuran kompetensi yang bagaimana?

    Kasus UTS Insearch-Gibran akhirnya bukan hanya soal satu orang.

    Ini menjadi ujian terhadap mekanisme pengakuan pendidikan lintas negara di Indonesia.

    Dan jika mekanisme tersebut memang mampu menjelaskan secara terbuka bagaimana enam mata kuliah, rekam pendidikan, lama studi, dokumen akademik dan learning outcome diterjemahkan menjadi ekuivalensi SMK, maka polemiknya seharusnya dapat dijawab dengan data.

    Bukan dengan label.

    Sebab yang sedang dipertaruhkan bukan nama sekolah, melainkan kredibilitas sistem penyetaraan pendidikan Indonesia.

      Ikuti kami di Facebook