
Budi juga mengungkapkan keresahannya, dari awal kain Karawo tidak dikenal masyarakat hingga bisa dikenakan langsung oleh Ibu Negara Republik Indonesia.
“Perajin ini kita beri tahu, kadang paduan warna yang mereka pilih terlalu mencolok. Sehingga dari estetika kurang bisa diterima masyarakat,” ungkapnya.
Disampaikannya, ia juga terus berkonsultasi dengan berbagai pihak, termasuk konsultan pemasaran yang ada di New York mengenai produk kain Karawo yang kemudian disesuaikan dengan selera masyarakat luar negeri.
“Kalau kain di Babel, paduan warnanya saya rasa sudah bagus. Mencolok tapi nyambung. Untuk pemasaran kita bisa fasilitasi baik secara nasional dan internasional, karena kita sudah punya kantor perwakilan di New York. Tapi memang tidak mudah, ada tahapan yang harus terpenuhi,” tambahnya.