
INTRIK.ID, BANGKA SELATAN – Bangun pagi-pagi sudah menjadi kebiasan bagi Sawiran dalam kesehariannya. Sejak 1990, pria 52 tahun itu sudah berkelut dengan laut Toboali.
Bagaimana tidak, Sawiran harus menjadi tukang sungkur udang untuk bertahan hidup. Tak peduli bahaya, ia tetap menjalani pekerjaannya untuk menafkahi delapan orang anaknya.
Memang hasil dari menyungkur udang tidak menentu, bahkan pertama kali ia turun ke laut hanya mendapatkan Rp 15 ribu saja.
Namun sekarang ia bisa memperoleh Rp 60 ribu per hari dengan harga udang sungkur Rp 20 ribu per kiko. Meskipun tak jarang ia harus pulang dengan tangan hampa jika cuaca buruk dan ada buaya.