
“Sarang Ikan memang sudah menjadi tempat sarang sabu dan juga sex bebas. Ditambah ada 80 ponton yang bekerja di hutan lindung, padahal sudah ditertibkan. Bahkan sebelum kisruh sudah diberitahukan 4 hari sebelumnya setiap hari. Tapi mereka ngeyel. Diberi waktu 7 hari minta 10 hari. Dikasih 10 hari malah gak mau dengar, jadinya kurang ajar, ” jelasnya.
Ia melanjutkan, satgas awalnya sudah datang dengan sopan dan mengumpulkan para penambang untuk diberikan himbauan dan sosialisasi terkait kawasan hutan lindung yang tak boleh di tambang.
“Jadi awalnya Satgas Trisakti ini datang dan sudah memanggil para penambang dengan sopan untuk sosialisasi. Namun penambang ini budeg semua dan pura-pura tak mendengar serta tak menghargai. Kenapa saya tau, karena saya ada disitu, ” tegasnya.
Ia mengungkapkan, setelah pemanggilan dengan baik, pihak satgas lumayan kesal karena merasa tak dihargai. Padahal, pihaknya ingin memberikan arahan dan sosialisasi dan memberikan waktu untuk para penambang tidak lagi beroperasi tanpa ada pembongkaran paksa atau penindakan hukum.