
Polemik tersebut berkaitan dengan kekalahan Indonesia 0-3 dari Malaysia pada leg pertama final AFF 2010. Indonesia kemudian menang 2-1 pada leg kedua, tetapi kalah secara agregat dan gagal meraih gelar juara.
Pada akhir Desember 2018, kepolisian menyatakan keterangan para pemain masih perlu didalami dan dicocokkan dengan informasi dari pihak lain. Dengan demikian, kedatangan mereka ke Polda tidak bisa diartikan sebagai bukti bahwa pengaturan skor dalam final tersebut telah terbukti terjadi.
Dua peristiwa yang terpaut lebih dari satu dekade itu menunjukkan bahwa dugaan match fixing dapat mengguncang kepercayaan publik terhadap pertandingan sepak bola. Namun, penanganan setiap kasus harus dibedakan berdasarkan bukti, proses penyelidikan, dan status hukum orang yang disebut terlibat.
Dalam kasus Laos, kabar penangkapan Lueanthala masih membutuhkan konfirmasi resmi dan perkembangan penyidikan. Sementara dalam polemik AFF 2010, fakta yang terverifikasi dari pemberitaan saat itu adalah para pemain Indonesia mendatangi Polda untuk memberikan klarifikasi dan membantah tudingan yang beredar.
Karena itu, kedua peristiwa tersebut tidak dapat disamakan begitu saja. Dugaan terhadap pemain Laos perlu diuji oleh proses hukum, sedangkan isu yang menyeret pemain Indonesia pada 2010 tidak boleh dihidupkan kembali seolah-olah mereka telah terbukti melakukan kecurangan.