
INTRIK.ID — Manchester United kembali menelan pil pahit. Bertandang ke markas Chelsea di Stamford Bridge, Sabtu (31/10/2026), Setan Merah pulang tanpa poin setelah takluk 0-2.
Namun, kekalahan kali ini bukan sekadar soal kehilangan tiga poin. Ada persoalan jauh lebih besar yang membayangi Manchester United: krisis performa yang tak kunjung menemukan jalan keluar, sementara posisi Michael Carrick sebagai pelatih semakin berada dalam tekanan.
Chelsea mengunci kemenangan melalui gol Morgan Rogers pada menit ke-50 dan penalti Cole Palmer pada menit ke-64. Sementara Manchester United harus menyelesaikan pertandingan dengan 10 pemain setelah Lisandro Martinez menerima kartu merah.
Ironisnya, United sebenarnya sempat memberikan perlawanan menjanjikan pada babak pertama. Sejumlah peluang tercipta, tetapi penyelesaian akhir kembali menjadi persoalan.
Bruno Fernandes membuang peluang emas ketika berada dalam posisi menguntungkan. Amad Diallo juga gagal memaksimalkan kesempatan yang didapatnya.
Bahkan, kedua tim sempat mencetak gol pada babak pertama. Namun, gol Matheus Cunha untuk United dan Estevao Willian bagi Chelsea dianulir karena offside.
Petaka mulai datang setelah turun minum.
Menit ke-50, Morgan Rogers memperlihatkan kualitas individunya. Ia melewati pertahanan United sebelum melepaskan penyelesaian matang yang tak mampu dihentikan Senne Lammens.
Belum sempat bangkit, Manchester United justru semakin terpuruk.
Lisandro Martinez melakukan pelanggaran terhadap Wesley Fofana di kotak penalti. Setelah tinjauan VAR, wasit menunjuk titik putih dan mengeluarkan kartu kuning kedua untuk bek asal Argentina tersebut.
Cole Palmer yang maju sebagai eksekutor sukses menjalankan tugasnya pada menit ke-64. Chelsea unggul 2-0 sekaligus semakin menjauh dari jangkauan United.
Bermain dengan 10 orang membuat situasi semakin sulit bagi tim tamu. Chelsea lebih leluasa mengendalikan pertandingan hingga peluit panjang dibunyikan.
Kekalahan dari Chelsea memperpanjang catatan buruk Manchester United menjadi sembilan pertandingan tanpa kemenangan di semua kompetisi.
Catatan tersebut menjadi rentetan terburuk mereka sejak 1988.
Situasi ini tentu menjadi pukulan besar bagi Michael Carrick. Setelah kekalahan telak 1-4 dari Como di Liga Champions dan 0-3 dari Bournemouth, kekalahan di Stamford Bridge semakin memperbesar tekanan terhadap sang pelatih.
Posisi United di klasemen juga mengkhawatirkan. Mereka terancam semakin dekat dengan zona degradasi, sementara Chelsea justru merangkak naik ke posisi empat klasemen sementara.
Persoalan Manchester United tampaknya sudah lebih besar daripada sekadar hasil pertandingan.
Peluang yang terbuang, pertahanan yang mudah ditembus, hingga masalah kedisiplinan menjadi gambaran betapa rapuhnya permainan Setan Merah saat ini.
Carrick memang menjadi sosok yang paling mudah disorot. Namun, rentetan hasil buruk juga memunculkan pertanyaan lebih luas mengenai kualitas skuad, perekrutan pemain, dan arah pembangunan klub.
Jika kondisi ini terus berlanjut, Manchester United bukan hanya berisiko kehilangan persaingan di papan atas, tetapi juga bisa terseret lebih jauh ke dalam pertarungan menghindari degradasi.
Bagi klub sebesar Manchester United, sembilan pertandingan tanpa kemenangan bukan lagi sekadar periode buruk.
Itu adalah alarm krisis yang seharusnya tidak bisa diabaikan.