
INTRIK.ID, KARIMUN — Motifnya sudah punya identitas. Bunga kundur, siput, ikan kerapu, pohon sagu hingga jong dituangkan para perajin Rumah Batik Kundur ke atas kain. Namun, ada pekerjaan yang belum selesai: membuat Batik Kundur dikenal lebih luas di luar Pulau Kundur.
Rumah Batik Kundur yang merupakan binaan PT Timah Tbk kini menjadi ruang bagi sekitar 12 perajin untuk belajar sekaligus memproduksi batik khas daerah.
Para perajin rutin membatik dua hingga tiga kali dalam sepekan. Di sela produksi, mereka masih terus mengasah teknik, terutama mencanting dan mengembangkan motif agar produk yang dihasilkan semakin beragam.
Ketua Rumah Batik Kundur, Arman, mengatakan semangat para perajin untuk belajar masih tinggi.
“Biasanya kami membatik dua sampai tiga kali dalam seminggu. Sambil produksi, kami juga terus belajar. Alhamdulillah, ibu-ibu sungguh-sungguh ingin berkarya,” ujar Arman.
Namun, proses menuju produk yang siap bersaing masih menghadapi tantangan. Teknik eco print, misalnya, membutuhkan ketepatan dalam memilih warna dan bahan agar pola yang dihasilkan terlihat jelas di kain.
“Untuk eco print, salah satu tantangannya menentukan warna yang digunakan supaya cocok dan hasil jejak yang ditinggalkan di kain bisa terlihat dengan baik,” jelasnya.
Tantangan lain berada di luar meja produksi: pemasaran.
Arman mengakui Batik Kundur belum banyak dikenal di luar wilayah Kundur. Padahal, kelompok tersebut telah mengembangkan beragam motif yang mengambil inspirasi dari lingkungan dan identitas lokal Karimun.
Karena itu, pameran menjadi salah satu pintu untuk memperkenalkan produk. Rumah Batik Kundur sebelumnya mendapat fasilitasi PT Timah untuk mengikuti pameran di Tanjung Balai Karimun.
Dukungan PT Timah juga diberikan melalui pelatihan batik cap, batik tulis, batik lukis dan eco print, sekaligus penyediaan kebutuhan produksi seperti kain, canting dan peralatan membatik.
“Dukungan PT Timah sangat membantu Rumah Batik Kundur. PT Timah memberikan berbagai barang yang kami perlukan untuk membatik, termasuk alat canting dan kain. Kami juga pernah mendapatkan pelatihan eco print,” kata Arman.
Dari sisi produk, para perajin mulai bergerak lebih jauh. Batik tidak hanya dibuat dalam bentuk kain, tetapi dikembangkan menjadi pakaian dan tas. Ke depan, mereka ingin membuat lebih banyak produk aksesori.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas pasar sekaligus meningkatkan nilai ekonomi karya para perajin.
“Harapan kami, batik lokal ini semakin dikenal masyarakat Indonesia. Kami ingin terus berkarya sehingga bisa memberikan dampak ekonomi bagi para perajin,” ujarnya.
Bagi Rumah Batik Kundur, pekerjaan rumahnya kini bukan sekadar menjaga kemampuan membatik. Mereka harus memastikan motif khas yang lahir dari identitas Kundur mampu keluar dari pulau, dikenal lebih banyak orang, dan berubah menjadi peluang ekonomi bagi para perajin.(*)
Sumber: PT Timah Tbk