
INTRIK.ID, JAKARTA — Lulusan Universitas Indonesia (UI), Universitas Gadjah Mada (UGM), Institut Teknologi Bandung (ITB), dan IPB University sama-sama memiliki peluang berkarier di perusahaan besar. Namun, kampus mana yang paling banyak dilirik perusahaan asing maupun perusahaan dalam negeri?
Salah satu acuan untuk menjawab pertanyaan tersebut adalah pemeringkatan QS World University Rankings 2026, khususnya indikator employability yang menilai reputasi pemberi kerja dan hasil ketenagakerjaan lulusan.
Dalam pemeringkatan itu, UI menempati posisi pertama di Indonesia dengan skor 87,2. UGM berada di posisi kedua dengan skor 75,9, disusul ITB dengan 68,6. Sementara itu, IPB University memperoleh skor 45,3.
Angka tersebut menunjukkan UI memiliki keunggulan dalam indikator kemampuan kerja lulusan berdasarkan metodologi QS. Namun, skor ini bukan jumlah lulusan yang direkrut perusahaan dan tidak berarti setiap perusahaan pasti lebih memilih alumni UI dibandingkan kampus lainnya.
UI menempati posisi teratas di antara empat kampus yang dibandingkan berdasarkan indikator employability QS WUR 2026.
Lulusan UI berasal dari beragam bidang, mulai dari ekonomi, hukum, ilmu sosial, kesehatan, hingga teknik dan ilmu komputer. Keragaman tersebut membuka peluang untuk memasuki berbagai sektor pekerjaan.
Di perusahaan dalam negeri, bidang yang relevan antara lain perbankan, jasa keuangan, telekomunikasi, konsultasi, energi, dan perusahaan konsumer.
Adapun perusahaan multinasional memiliki kebutuhan tenaga kerja di bidang keuangan, teknologi, pemasaran, analisis data, riset, hingga manajemen.
Meski demikian, posisi UI dalam pemeringkatan tidak bisa dijadikan bukti bahwa perusahaan tertentu merekrut alumni UI dalam jumlah paling banyak. Data perekrutan berdasarkan nama kampus dan perusahaan masih diperlukan untuk membuat kesimpulan tersebut.
UGM memiliki basis alumni yang tersebar di berbagai sektor, termasuk perusahaan swasta, instansi pemerintah, BUMN, dan dunia usaha.
Berdasarkan Tracer Study UGM 2025, sebanyak 61,91 persen lulusan sarjana dan sarjana terapan yang tercakup dalam survei bekerja di perusahaan swasta. Sebanyak 14,23 persen bekerja di instansi pemerintah, sedangkan 10,12 persen bekerja di BUMN atau BUMD.
Data tersebut memperlihatkan bahwa perusahaan swasta menjadi tujuan kerja terbesar bagi responden lulusan UGM dalam survei tersebut.
Peluang karier alumni UGM mencakup berbagai sektor, seperti perbankan, industri manufaktur, energi, pertanian, teknologi, serta perusahaan jasa.
Namun, kategori perusahaan swasta dalam laporan itu tidak otomatis berarti seluruhnya merupakan perusahaan dalam negeri. Untuk membedakan perusahaan nasional dan asing, diperlukan data yang mengelompokkan tempat kerja berdasarkan kepemilikan atau skala operasinya.
ITB memiliki kekuatan pada bidang teknik, sains, teknologi, komputasi, dan disiplin lain yang berkaitan dengan industri.
Data Tracer Study ITB yang dipublikasikan pada 2025, berdasarkan alumni program sarjana angkatan 2017, menunjukkan bahwa dari alumni yang bekerja, 43 persen berada di perusahaan nasional, 32 persen di perusahaan multinasional, dan 25 persen di perusahaan lokal.
Komposisi tersebut memberikan gambaran bahwa alumni ITB tidak hanya terserap di perusahaan nasional, tetapi juga memiliki keterwakilan di perusahaan multinasional.
Untuk perusahaan dalam negeri, bidang yang relevan bagi lulusan ITB antara lain energi, pertambangan, telekomunikasi, manufaktur, konstruksi, dan teknologi.
Sementara itu, perusahaan multinasional di bidang teknologi, otomotif, energi, dan manufaktur dapat menjadi tujuan karier bagi lulusan dengan kompetensi yang sesuai.
Meski begitu, data tersebut berasal dari kelompok alumni dan periode tertentu. Angkanya tidak dapat langsung dianggap mewakili seluruh lulusan ITB saat ini.
IPB University memiliki karakteristik bidang keilmuan yang berkaitan erat dengan pertanian, pangan, peternakan, perikanan, lingkungan, biosains, dan pengelolaan bisnis.
Peluang kerja alumninya tidak terbatas pada sektor pertanian konvensional. Industri pangan, perkebunan, kehutanan, riset, rantai pasok, serta perusahaan berbasis teknologi pertanian juga membutuhkan kompetensi yang relevan.
Dalam laporan pada Mei 2026, IPB menyebut 35,2 persen peserta survei wisuda pada 13 Mei 2026 telah memperoleh pekerjaan sebelum lulus. Kampus itu juga melaporkan bahwa dalam tiga tahun terakhir, 83 persen lulusannya memperoleh pekerjaan dalam rentang nol hingga enam bulan setelah kelulusan.
Angka tersebut merupakan hasil survei yang dilaporkan IPB dan tidak bisa dibandingkan secara langsung dengan skor QS atau persentase jenis perusahaan dari tracer study kampus lain, karena indikator dan kelompok respondennya berbeda.
Bagi perusahaan dalam negeri, kompetensi lulusan IPB relevan dengan industri pangan, agribisnis, perkebunan, dan produk konsumer. Di perusahaan multinasional, peluang dapat terbuka pada bidang pangan, pertanian berkelanjutan, riset, lingkungan, dan rantai pasok global.
Peluang kerja lulusan empat kampus tersebut dapat dipetakan berdasarkan sektor dan kompetensi yang dibutuhkan perusahaan.
Perusahaan asing atau multinasional, misalnya, mencakup Google dan Microsoft di bidang teknologi, Unilever di industri barang konsumer, Toyota di otomotif, serta Siemens di teknologi industri. Perusahaan-perusahaan tersebut memiliki kebutuhan profesi yang berbeda, sehingga jurusan, keterampilan, pengalaman magang, dan kemampuan bahasa dapat menjadi pertimbangan penting.
Sementara itu, perusahaan dalam negeri yang memiliki beragam kebutuhan tenaga kerja antara lain Telkom Indonesia dan Telkomsel di bidang telekomunikasi, Pertamina di sektor energi, Astra di bidang otomotif dan industri, BCA dan Bank Mandiri di sektor keuangan, serta Indofood di industri pangan.
Nama-nama tersebut merupakan contoh perusahaan berdasarkan sektor bisnis, bukan daftar perusahaan yang terbukti paling banyak merekrut lulusan dari salah satu kampus di atas. Tidak tersedia data pembanding yang cukup dalam sumber yang ditelusuri untuk menyatakan bahwa perusahaan-perusahaan tersebut lebih mengutamakan alumni UI, UGM, ITB, atau IPB.
Jika acuannya adalah indikator employability QS WUR 2026, UI berada di posisi tertinggi, diikuti UGM, ITB, dan IPB University.
Namun, jika pertanyaannya adalah kampus mana yang alumninya paling banyak direkrut perusahaan asing atau perusahaan dalam negeri, jawabannya belum bisa dipastikan hanya dari pemeringkatan tersebut.
Data perekrutan berdasarkan nama kampus, jumlah alumni yang diterima, jenis perusahaan, dan periode perekrutan diperlukan agar perbandingannya benar-benar setara.
Pada akhirnya, nama kampus dapat membantu membangun reputasi awal, tetapi peluang seseorang memperoleh pekerjaan juga dipengaruhi kompetensi, pengalaman, bidang studi, kemampuan berkomunikasi, dan kebutuhan perusahaan.
Karena itu, memilih kampus tidak cukup hanya berdasarkan anggapan bahwa lulusannya paling diburu perusahaan. Kesesuaian program studi dengan bidang karier yang dituju juga menjadi pertimbangan penting.