
INTRIK.ID, PANGKALPINANG — Menekan angka pengangguran menjadi salah satu alasan Pemerintah Kota Pangkalpinang memperluas pelatihan kerja berbasis kompetensi. Pemerintah menilai kemampuan kerja tidak cukup hanya mengandalkan kemauan, tetapi harus dibarengi keterampilan yang memenuhi standar.
Program pelatihan kerja dan produktivitas tenaga kerja Tahun Anggaran 2026 itu dibuka langsung Wali Kota Pangkalpinang, Prof. Saparudin. Pelatihan berlangsung pada 7–28 Oktober 2026 dan mencakup tiga bidang, yakni Digital Marketing, Junior Makeup Artist, dan Coffee Roasting.
Sebelumnya, sebanyak 82 warga mendaftar program tersebut. Setelah melalui seleksi administrasi, tes pengetahuan umum, tes kemampuan dasar berbasis daring dan wawancara, sebanyak 55 peserta dinyatakan lolos.
Puluhan peserta tersebut kemudian mengikuti pelatihan sesuai unit kompetensi masing-masing dengan instruktur bersertifikasi.
Saparudin mengatakan pelatihan tersebut merupakan salah satu program strategis Pemkot Pangkalpinang untuk mengurangi tingkat pengangguran sekaligus menjawab kebutuhan dunia kerja.
“Ini untuk mengurangi tingkat pengangguran di Pangkalpinang. Pelatihan ini merupakan salah satu program strategis Kota Pangkalpinang karena kebutuhan ketenagakerjaan dan lapangan kerja itu membutuhkan keahlian hingga kompetensi yang standar, baik nasional maupun internasional,” kata Saparudin.
Menurutnya, dunia kerja semakin membutuhkan tenaga kerja yang memiliki keterampilan dan kompetensi yang dapat dibuktikan. Karena itu, pelatihan tidak hanya diarahkan agar peserta bisa bekerja di Pangkalpinang, tetapi juga memiliki peluang memasuki pasar kerja yang lebih luas.
“Dunia kerja itu membutuhkan tenaga-tenaga yang punya keterampilan, kompetensi yang standar,” ujarnya.
Saparudin kemudian menceritakan pengalamannya ketika mencari kopi yang sesuai dengan selera. Ia mengaku pernah harus mendatangi tiga tempat dalam satu malam karena belum menemukan kopi yang dianggap tepat.
Menurutnya, pengalaman tersebut menjadi gambaran bahwa pekerjaan tertentu membutuhkan pengetahuan dan kompetensi, bukan sekadar kemampuan dasar.
“Jadi kita itu harus ada ilmunya atau kompetensi. Dengan adanya kompetensi ini bukan hanya bisa bekerja di Pangkalpinang, tapi juga bisa di tempat lainnya karena nanti akan mendapatkan sertifikatnya,” jelasnya.
Dalam program ini, peserta mengikuti tiga jenis pelatihan, yakni Junior Makeup Artist sebanyak 20 orang, Digital Marketing 20 orang dan Coffee Roasting 15 orang.
Pelaksanaan pelatihan melibatkan lembaga mitra, di antaranya LKP Astari bersama LSP Cipta Karya, LPK Atma Luhur dan Mulia Kopi Berkelanjutan.
Namun, Saparudin mengingatkan peserta bahwa pelatihan yang berlangsung sekitar dua pekan tersebut bukan akhir dari proses. Sertifikat dan keterampilan yang diperoleh harus dilanjutkan dengan latihan, ketekunan dan pengalaman.
“Tidak cukup hanya pelatihan yang hanya 14 hari ini saja, tapi harus istiqomah dan tekun. Jatuh bangun itu merupakan hal yang biasa, jangan menyerah,” tegasnya.
Melalui pelatihan berbasis kompetensi tersebut, Pemkot Pangkalpinang berharap peserta tidak hanya memiliki bekal untuk mencari pekerjaan, tetapi juga mampu menciptakan peluang usaha secara mandiri.