
INTRIK.ID — Keputusan Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) memasukkan Asosiasi Sepak Bola Malaysia (FAM) dalam nominasi Association of the Year 2026 menuai kritik dari jurnalis investigasi asal Prancis, Romain Molina.
Melalui akun X @Romain_Molina pada 16 Oktober 2026, Molina mempertanyakan keputusan tersebut. Ia menyoroti kasus pemalsuan dokumen yang melibatkan tujuh pemain Malaysia pada 2025 dan menilai pencalonan FAM menimbulkan pertanyaan serius mengenai standar yang digunakan AFC.
“The AFC is a joke: how can the Malaysian Football Association 🇲🇾 be in the running for the Association of the Year after being found guilty in 2025 of falsifying the nationalities of seven players?” tulis Molina.
Ia kemudian menambahkan, “It seems as though corruption and wrongdoing are being encouraged.”
Pernyataan itu memperlihatkan kerasnya kritik Molina terhadap keputusan AFC. Baginya, pencalonan FAM sulit dilepaskan dari kasus yang sebelumnya mencoreng sepak bola Malaysia.
Sorotan tersebut juga memunculkan pertanyaan yang lebih luas: bagaimana sebuah federasi dengan rekam jejak kontroversial bisa masuk dalam persaingan penghargaan asosiasi sepak bola terbaik di Asia?
AFC mengumumkan nominasi penghargaan tahunannya pada 16 Oktober 2026. FAM masuk kategori AFC Member Association of the Year (Gold) bersama Asosiasi Sepak Bola Hong Kong dan Federasi Sepak Bola Seluruh India.
Penghargaan tersebut menjadi bentuk pengakuan terhadap asosiasi anggota AFC. Namun, pencalonan FAM justru menarik perhatian karena federasi itu sebelumnya berhadapan dengan perkara serius terkait kelayakan tujuh pemain.
Pada 26 September 2025, Komite Disiplin FIFA menjatuhkan sanksi kepada FAM dan tujuh pemain setelah menemukan pelanggaran terkait penggunaan dokumen yang telah diubah dalam proses pengajuan kelayakan pemain.
FAM dikenai denda 350.000 franc Swiss. Sementara itu, masing-masing pemain dijatuhi denda dan larangan beraktivitas dalam sepak bola selama 12 bulan.
FAM dan para pemain mengajukan banding. Namun, pada November 2025, Komite Banding FIFA menguatkan sanksi yang sebelumnya dijatuhkan.
Perkara tersebut kemudian berlanjut ke Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS). Pada Maret 2026, CAS mengubah lingkup larangan terhadap para pemain sehingga hanya berlaku untuk pertandingan resmi. Meski demikian, denda terhadap FAM tetap dipertahankan.
Rangkaian proses itu menjadi latar penting di balik kritik Molina. Kasus tersebut bukan sekadar rumor di media sosial, melainkan perkara yang telah melalui proses disipliner di tingkat FIFA dan banding di CAS.
Masuknya FAM dalam nominasi penghargaan AFC tidak otomatis berarti federasi itu telah memenangkan penghargaan atau bahwa AFC membenarkan pelanggaran yang pernah terjadi.
Namun, keputusan tersebut tetap membuka ruang bagi publik untuk mempertanyakan kriteria penilaian yang digunakan. Apalagi, persoalan yang menjerat FAM berkaitan dengan integritas dokumen dan kelayakan pemain untuk membela tim nasional.
Kritik Molina menempatkan AFC dalam posisi yang perlu menjelaskan dasar pencalonan tersebut. Apakah penilaian lebih bertumpu pada program pengembangan sepak bola, pencapaian organisasi, atau juga mempertimbangkan rekam jejak kepatuhan dan tata kelola?
Pertanyaan itu menjadi penting karena penghargaan bagi sebuah federasi tidak hanya menyangkut aktivitas di lapangan. Kredibilitas organisasi, transparansi, serta kepatuhan terhadap aturan juga berpengaruh terhadap kepercayaan publik.
Meski begitu, tanpa penjelasan resmi mengenai kriteria penilaian AFC, belum ada dasar untuk menyimpulkan bahwa pencalonan FAM merupakan bentuk pembenaran terhadap kasus sebelumnya.
Unggahan Molina menambah sorotan terhadap keputusan AFC di tengah upaya sepak bola Malaysia memulihkan kepercayaan setelah kasus tujuh pemain tersebut.
Kritik itu juga menunjukkan bahwa persoalan FAM belum sepenuhnya lepas dari perhatian publik sepak bola internasional. Ketika federasi tersebut kembali mendapat sorotan melalui sebuah nominasi penghargaan, rekam jejak kontroversialnya ikut dibicarakan.
Kini, pertanyaan bukan hanya apakah FAM layak masuk nominasi, tetapi juga seberapa transparan AFC menjelaskan dasar penilaiannya kepada publik.
Sebab, penghargaan yang dimaksudkan untuk mengapresiasi perkembangan sepak bola akan kehilangan sebagian kredibilitasnya apabila kriteria dan pertimbangannya tidak dipahami dengan jelas.
Bagi AFC, kontroversi ini menjadi pengingat bahwa kepercayaan terhadap sepak bola Asia tidak hanya dibangun melalui kompetisi dan penghargaan, tetapi juga melalui konsistensi dalam menjaga integritas.