
INTRIK.ID, JAKARTA — Ambruknya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bukan sekadar kabar buruk bagi investor di bursa. Gejolak pasar saham juga membawa risiko yang lebih luas, mulai dari melemahnya kepercayaan investor, tekanan terhadap nilai tukar rupiah, hingga potensi bertambahnya beban perusahaan yang membutuhkan pendanaan.
Pada Jumat (16/10/2026), IHSG sempat merosot lebih dari 11 persen dan menyentuh level sekitar 5.200. Penurunan tajam tersebut terjadi setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengumumkan rencana mengkaji perubahan status pasar modal Indonesia dari emerging market menjadi standalone market.
Besarnya tekanan membuat Bursa Efek Indonesia (BEI) menghentikan sementara perdagangan saham selama 30 menit pada awal sesi. Peristiwa ini menjadi salah satu gejolak pasar paling tajam sejak krisis keuangan Asia 1998.
Namun, persoalan yang perlu dicermati bukan hanya seberapa dalam indeks jatuh. Pertanyaan berikutnya adalah seberapa jauh dampaknya bisa menjalar ke perekonomian nasional.
Dampak paling langsung dirasakan investor yang memiliki saham. Ketika harga saham turun tajam, nilai portofolio mereka ikut menyusut.
Investor yang membeli saham pada harga lebih tinggi akan melihat nilai investasinya turun. Kerugian tersebut menjadi kerugian yang terealisasi apabila saham dijual pada harga lebih rendah daripada harga beli, setelah memperhitungkan biaya transaksi.
Meski begitu, penurunan IHSG tidak berarti seluruh investor mengalami kerugian dalam jumlah yang sama. Dampaknya bergantung pada saham yang dimiliki, harga beli, dan keputusan investasi masing-masing.
Kondisi seperti ini juga menguji psikologi investor. Ketidakpastian dapat memicu aksi jual lanjutan, meskipun keputusan yang diambil karena panik belum tentu sesuai dengan kebutuhan keuangan setiap orang.
Tekanan pasar saham juga terjadi bersamaan dengan pelemahan rupiah. Reuters melaporkan mata uang Indonesia sempat melemah sekitar 0,6 persen hingga menyentuh Rp18.070 per dolar AS pada Jumat.
Jika tekanan terhadap rupiah berlanjut, biaya impor berpotensi meningkat, terutama untuk barang dan bahan baku yang dibayar menggunakan dolar AS.
Dampaknya bisa dirasakan perusahaan yang bergantung pada bahan baku impor. Ketika biaya produksi meningkat, perusahaan harus memilih antara menanggung kenaikan biaya, mencari pemasok alternatif, atau menyesuaikan harga jual.