
2. Menjadi tolok ukur investasi
Investor dan pengelola dana dapat menggunakan IHSG sebagai pembanding untuk mengevaluasi kinerja portofolio mereka.
Misalnya, apabila suatu portofolio saham turun 3 persen ketika IHSG turun 8 persen dalam periode yang sama, kinerja portofolio tersebut secara relatif lebih baik daripada indeks. Meski begitu, hasil itu tidak otomatis berarti investor memperoleh keuntungan.
3. Membantu membaca sentimen pasar
IHSG juga menjadi salah satu indikator untuk melihat respons investor terhadap kebijakan pemerintah, situasi politik, kondisi ekonomi global, dan perkembangan perusahaan.
Ketika investor khawatir terhadap prospek ekonomi atau tata kelola pasar, tekanan jual dapat meningkat dan mendorong indeks turun.
4. Menjadi acuan produk investasi
Indeks saham juga digunakan dalam pengembangan produk investasi seperti reksa dana indeks dan exchange-traded fund (ETF). Produk tersebut dirancang untuk mengikuti indeks acuan tertentu sesuai strategi dan ketentuannya.
Tidak ada satu penyebab yang selalu menjelaskan setiap kejatuhan IHSG. Pergerakan indeks dipengaruhi banyak faktor, mulai dari kondisi perusahaan, suku bunga, nilai tukar, situasi global, hingga kepercayaan investor terhadap pasar modal.
Dalam gejolak terbaru pada Jumat (16/10/2026), IHSG ditutup merosot 11,57 persen ke level 5.185,10.
Penurunan tersebut terjadi setelah penyedia indeks global MSCI membuka proses yang mengarah pada kemungkinan perubahan klasifikasi pasar Indonesia dari emerging market menjadi standalone market. Kekhawatiran mengenai transparansi dan aksesibilitas pasar turut menjadi sorotan.
Pada awal perdagangan, BEI sempat menghentikan sementara perdagangan saham setelah IHSG turun mencapai ambang 8 persen. Perdagangan kemudian dijadwalkan kembali berlangsung setelah jeda 30 menit.