
INTRIK.ID, JAKARTA — Kekuasaan boleh berganti, tetapi jaringan orang-orang dekat tidak selalu ikut menghilang. Fenomena inilah yang membuat istilah Geng Solo kembali menarik perhatian dalam peta politik Indonesia.
Sebutan Geng Solo merujuk pada sejumlah pejabat dan perwira yang memiliki rekam jejak kedekatan profesional dengan Joko Widodo (Jokowi), terutama ketika mantan Presiden RI tersebut masih memimpin Kota Surakarta.
Menariknya, beberapa nama yang pernah bertugas di Solo kemudian menduduki jabatan strategis di lingkungan TNI, Polri, bahkan pemerintahan sipil.
Lalu, siapa saja mereka? Bagaimana perjalanan kariernya hingga bisa berada di lingkaran kekuasaan nasional?
Istilah Geng Solo mulai mencuat ke publik sekitar Desember 2019. Saat itu, Indonesia Police Watch (IPW) di bawah kepemimpinan Neta S. Pane menyoroti sejumlah perwira Polri yang memiliki riwayat penugasan sebagai Kapolresta Surakarta ketika Jokowi masih menjadi wali kota.
Sorotan tersebut muncul setelah beberapa perwira yang pernah bertugas di Solo mendapatkan promosi ke jabatan strategis.
Tiga nama yang menjadi perhatian ketika itu adalah Nana Sudjana, Listyo Sigit Prabowo, dan Ahmad Luthfi.
IPW bahkan mempertanyakan apakah perkembangan karier para perwira tersebut berkaitan dengan kedekatan mereka dengan Jokowi.
Namun, tudingan tersebut dibantah pihak Istana maupun Polri. Polri menegaskan bahwa mutasi dan promosi jabatan memiliki mekanisme tersendiri melalui Dewan Kepangkatan dan Jabatan Tinggi (Wanjakti).
Artinya, sejak awal Geng Solo lebih merupakan istilah yang berkembang dalam diskursus politik dan pengawasan institusi, bukan kelompok resmi di tubuh kepolisian.
Seiring perkembangan waktu, pembahasan Geng Solo tidak lagi terbatas pada kepolisian. Sejumlah perwira TNI yang memiliki rekam jejak penugasan di Solo maupun pernah menjadi ajudan Jokowi juga masuk dalam pembahasan.
Berikut sejumlah nama yang paling sering dikaitkan dengan jaringan tersebut.
1. Listyo Sigit Prabowo: Dari Kapolresta Solo hingga Kapolri
Listyo Sigit Prabowo menjadi salah satu nama paling menonjol.
Ia pernah menjabat Kapolresta Surakarta pada 2011–2012, ketika Jokowi masih menjadi wali kota.
Hubungan profesional keduanya berlanjut setelah Jokowi menjadi Presiden. Listyo dipercaya menjadi ajudan Presiden pada periode awal pemerintahan Jokowi.
Kariernya kemudian berkembang pesat. Ia pernah menjabat Kapolda Banten, Kadiv Propam, hingga Kabareskrim Polri.
Pada Januari 2021, Jokowi melantiknya menjadi Kapolri menggantikan Jenderal Idham Azis.
Posisi tersebut menjadikan Listyo sebagai salah satu figur paling berpengaruh di institusi kepolisian selama periode pemerintahan Jokowi.
2. Nana Sudjana: Dari Kapolresta Solo hingga Penjabat Gubernur
Nana Sudjana juga memiliki rekam jejak penugasan di Solo.
Ia pernah menjabat Kapolresta Surakarta sekitar 2010–2011. Setelah itu, kariernya berlanjut ke berbagai posisi strategis di kepolisian.
Nana pernah menjadi Kapolda NTB, Kapolda Metro Jaya, Kapolda Sulawesi Utara, hingga Kapolda Sulawesi Selatan.
Setelah pensiun dari Polri, ia dipercaya menjadi Penjabat Gubernur Jawa Tengah pada 2023.
Namanya menjadi salah satu figur yang memperlihatkan bagaimana mantan pejabat kepolisian yang pernah bertugas di Solo kemudian masuk ke lingkaran pemerintahan sipil.
3. Ahmad Luthfi: Dari Wakapolresta Solo hingga Gubernur Jawa Tengah
Ahmad Luthfi memiliki perjalanan karier yang tidak kalah menarik.
Ketika Jokowi masih menjadi Wali Kota Solo, Ahmad Luthfi pernah bertugas sebagai Wakapolresta Surakarta. Ia kemudian dipercaya menjadi Kapolresta Surakarta pada 2015.
Kariernya berlanjut menjadi Wakapolda Jawa Tengah dan Kapolda Jawa Tengah.
Setelah mengakhiri pengabdiannya di kepolisian, Ahmad Luthfi memasuki dunia politik.
Ia memenangkan Pilkada Jawa Tengah 2024 dan menjadi gubernur untuk periode 2025–2030.
4. Agus Subiyanto: Dari Dandim Solo hingga Panglima TNI
Dari lingkungan militer, nama Agus Subiyanto juga kerap dikaitkan dengan Geng Solo.
Agus pernah menjabat Komandan Kodim 0735/Surakarta ketika Jokowi memimpin kota tersebut.
Hubungan keduanya bahkan pernah diakui Agus secara terbuka. Ia mengatakan kedekatan dengan Jokowi terbentuk karena hubungan pekerjaan ketika dirinya menjadi Dandim.
Agus kemudian menduduki sejumlah jabatan penting, termasuk Komandan Paspampres, Pangdam III/Siliwangi, dan Wakil KSAD.
Pada Oktober 2023, Jokowi melantiknya sebagai KSAD. Sebulan kemudian, Agus dipercaya menjadi Panglima TNI.
5. Widi Prasetijono: Mantan Dandim Solo yang Menjadi Ajudan Jokowi
Nama Widi Prasetijono juga masuk dalam pembahasan jaringan perwira yang memiliki kedekatan profesional dengan Jokowi.
Widi pernah menjabat Dandim 0735/Surakarta pada 2011. Setelah itu, ia dipercaya menjadi salah satu ajudan Presiden Jokowi pada 2014–2016.
Karier militernya terus berkembang melalui berbagai posisi strategis di TNI AD, termasuk Pangdam IV/Diponegoro dan Komandan Kodiklat TNI AD.
Perjalanan Widi memperlihatkan bahwa hubungan profesional di tingkat daerah dapat berlanjut menjadi penugasan di lingkungan Istana.
6. Hadi Tjahjanto: Dari Danlanud Solo hingga Panglima TNI
Hadi Tjahjanto merupakan perwira TNI AU yang pernah menjabat Komandan Lanud Adi Soemarmo pada 2010–2011.
Saat itu, Jokowi masih menjadi Wali Kota Solo.
Setelah bertugas di Solo, Hadi mendapatkan sejumlah jabatan penting, termasuk Sekretaris Militer Presiden dan Kepala Staf Angkatan Udara.
Pada 2017, Jokowi melantiknya sebagai KSAU.
Kariernya mencapai puncak ketika dipercaya menjadi Panglima TNI pada 2017–2021. Setelah pensiun dari militer, Hadi juga dipercaya masuk kabinet pemerintahan Jokowi.
7. Mohamad Tonny Harjono: Mantan Ajudan Jokowi yang Memimpin TNI AU
Nama berikutnya adalah Mohamad Tonny Harjono.
Berbeda dengan beberapa nama sebelumnya, Tonny tidak memulai kedekatannya dengan Jokowi melalui penugasan sebagai komandan wilayah Solo.
Ia lebih dahulu dipercaya menjadi ajudan Presiden Jokowi pada 2014–2016.
Setelah itu, Tonny pernah menjabat Komandan Lanud Adi Soemarmo pada 2016–2018, Komandan Lanud Halim Perdanakusuma, hingga Sekretaris Militer Presiden.
Kariernya berlanjut menjadi Pangkoopsudnas dan Pangkogabwilhan II.
Pada April 2024, Tonny dilantik menjadi Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU).
Hal menarik lainnya adalah keberadaan sejumlah mantan ajudan Jokowi yang kemudian menduduki jabatan penting di lingkungan TNI.
Selain Listyo Sigit, ada Widi Prasetijono dan Tonny Harjono.
Ketiganya berasal dari matra berbeda. Listyo dari Polri, Widi dari TNI AD, dan Tonny dari TNI AU.
Mereka pernah menjadi bagian dari lingkungan pengamanan dan pendampingan Presiden pada awal pemerintahan Jokowi.
Dalam perjalanan karier berikutnya, ketiganya mendapatkan posisi strategis di institusi masing-masing.
Fenomena tersebut membuat hubungan antara Jokowi dan para mantan ajudannya ikut menjadi perhatian dalam pembahasan jaringan kepercayaan di sekitar Istana.
Jika melihat perjalanan nama-nama tersebut, ada pola yang menarik.
Sebagian pernah bertugas di Solo ketika Jokowi menjadi wali kota. Sebagian lainnya pernah menjadi ajudan ketika Jokowi sudah menjadi Presiden.
Setelah itu, beberapa di antaranya menduduki posisi penting di institusi negara.
Namun, pola tersebut tidak otomatis membuktikan adanya pengaturan jabatan atau praktik nepotisme.
Agus Subiyanto, misalnya, pernah menjelaskan bahwa kedekatannya dengan Jokowi merupakan kedekatan karena pekerjaan. Polri juga pernah membantah adanya kelompok khusus yang mendapatkan keistimewaan dalam promosi jabatan.
Di sisi lain, sejumlah pengamat dan lembaga pemantau tetap mempertanyakan apakah hubungan personal ikut memengaruhi dinamika promosi dan penempatan pejabat.
Inilah yang membuat istilah Geng Solo terus menjadi bahan perdebatan.
Jokowi memang sudah mengakhiri masa jabatannya sebagai Presiden pada Oktober 2024. Namun, sejumlah figur yang pernah memiliki hubungan profesional dengannya masih menduduki posisi penting di pemerintahan dan institusi negara.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan tentang keberlanjutan jaringan kepercayaan tersebut di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.
Apakah mereka masih menjadi bagian dari lingkaran pengaruh Jokowi? Ataukah hubungan tersebut sebatas rekam jejak profesional yang tidak lagi memiliki kaitan dengan kepentingan politik?
Tidak ada bukti yang cukup untuk menyimpulkan bahwa seluruh tokoh tersebut bergerak sebagai satu kelompok dengan kepentingan politik yang sama.
Namun, perjalanan karier mereka tetap menjadi bagian menarik dalam membaca peta kekuasaan Indonesia.
Sebab, dalam politik, pergantian presiden tidak selalu berarti seluruh jaringan kekuasaan ikut berganti.
Dan Geng Solo menjadi salah satu fenomena yang memperlihatkan bagaimana hubungan profesional, kepercayaan, dan perjalanan karier dapat menjadi sorotan ketika sejumlah orang yang pernah berada di lingkaran yang sama kemudian menduduki jabatan strategis negara.