
7. Mohamad Tonny Harjono: Mantan Ajudan Jokowi yang Memimpin TNI AU
Nama berikutnya adalah Mohamad Tonny Harjono.
Berbeda dengan beberapa nama sebelumnya, Tonny tidak memulai kedekatannya dengan Jokowi melalui penugasan sebagai komandan wilayah Solo.
Ia lebih dahulu dipercaya menjadi ajudan Presiden Jokowi pada 2014–2016.
Setelah itu, Tonny pernah menjabat Komandan Lanud Adi Soemarmo pada 2016–2018, Komandan Lanud Halim Perdanakusuma, hingga Sekretaris Militer Presiden.
Kariernya berlanjut menjadi Pangkoopsudnas dan Pangkogabwilhan II.
Pada April 2024, Tonny dilantik menjadi Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU).
Hal menarik lainnya adalah keberadaan sejumlah mantan ajudan Jokowi yang kemudian menduduki jabatan penting di lingkungan TNI.
Selain Listyo Sigit, ada Widi Prasetijono dan Tonny Harjono.
Ketiganya berasal dari matra berbeda. Listyo dari Polri, Widi dari TNI AD, dan Tonny dari TNI AU.
Mereka pernah menjadi bagian dari lingkungan pengamanan dan pendampingan Presiden pada awal pemerintahan Jokowi.
Dalam perjalanan karier berikutnya, ketiganya mendapatkan posisi strategis di institusi masing-masing.
Fenomena tersebut membuat hubungan antara Jokowi dan para mantan ajudannya ikut menjadi perhatian dalam pembahasan jaringan kepercayaan di sekitar Istana.
Jika melihat perjalanan nama-nama tersebut, ada pola yang menarik.
Sebagian pernah bertugas di Solo ketika Jokowi menjadi wali kota. Sebagian lainnya pernah menjadi ajudan ketika Jokowi sudah menjadi Presiden.
Setelah itu, beberapa di antaranya menduduki posisi penting di institusi negara.
Namun, pola tersebut tidak otomatis membuktikan adanya pengaturan jabatan atau praktik nepotisme.
Agus Subiyanto, misalnya, pernah menjelaskan bahwa kedekatannya dengan Jokowi merupakan kedekatan karena pekerjaan. Polri juga pernah membantah adanya kelompok khusus yang mendapatkan keistimewaan dalam promosi jabatan.
Di sisi lain, sejumlah pengamat dan lembaga pemantau tetap mempertanyakan apakah hubungan personal ikut memengaruhi dinamika promosi dan penempatan pejabat.
Inilah yang membuat istilah Geng Solo terus menjadi bahan perdebatan.
Jokowi memang sudah mengakhiri masa jabatannya sebagai Presiden pada Oktober 2024. Namun, sejumlah figur yang pernah memiliki hubungan profesional dengannya masih menduduki posisi penting di pemerintahan dan institusi negara.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan tentang keberlanjutan jaringan kepercayaan tersebut di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.
Apakah mereka masih menjadi bagian dari lingkaran pengaruh Jokowi? Ataukah hubungan tersebut sebatas rekam jejak profesional yang tidak lagi memiliki kaitan dengan kepentingan politik?
Tidak ada bukti yang cukup untuk menyimpulkan bahwa seluruh tokoh tersebut bergerak sebagai satu kelompok dengan kepentingan politik yang sama.
Namun, perjalanan karier mereka tetap menjadi bagian menarik dalam membaca peta kekuasaan Indonesia.
Sebab, dalam politik, pergantian presiden tidak selalu berarti seluruh jaringan kekuasaan ikut berganti.