Empat Kali Gagal Ganti Kapolri, Mahfud: Kali Kelima Prabowo Tak Kasih Kesempatan Listyo Berkutik

    Caption: Jend. Listyo Sigit Prabowo.

    INTRIK.ID, Jakarta – Pergantian Jenderal Listyo Sigit Prabowo dari kursi Kapolri ternyata menyimpan cerita politik yang lebih panjang dari sekadar reshuffle.

    Mantan Menko Polhukam Mahfud MD mengungkap, berdasarkan informasi dan analisis yang pernah beredar, wacana pergantian Listyo disebut sudah beberapa kali muncul sebelum akhirnya benar-benar dilakukan Presiden Prabowo Subianto.

    Namun, menurut Mahfud, rencana tersebut berulang kali tidak terealisasi.

    Hal itulah yang membuat Mahfud menilai keputusan Prabowo kali ini dilakukan dengan cara yang berbeda: mendadak dan nyaris tanpa ruang untuk kembali menggagalkannya.

    Mahfud menyampaikan analisis tersebut dalam perbincangan yang ditayangkan di kanal YouTube Mahfud MD Official, Rabu (7/10/2026).

    “Sudah beberapa kali Prabowo sebenarnya mau mengganti, sekurang-kurangnya sudah empat kali dengan ini,” kata Mahfud.

    Menurut dia, salah satu rencana pergantian sebelumnya bahkan sempat dikaitkan dengan momentum satu tahun pemerintahan Prabowo. Namun, isu tersebut kemudian menghilang.

    Mahfud juga menyebut pernah muncul lagi rencana pergantian Kapolri, tetapi kembali tidak terjadi.

    Dalam penuturannya, Mahfud mengaitkan batalnya sejumlah rencana tersebut dengan dinamika politik di sekitar pemerintahan Prabowo. Ia menyebut sejumlah informasi yang beredar saat itu menghubungkan situasi tersebut dengan kedatangan Joko Widodo ke kediaman Megawati Soekarnoputri maupun pertemuan Gibran Rakabuming Raka dengan pihak tertentu.

    Namun, Mahfud tidak menyajikan hal tersebut sebagai keputusan resmi yang diumumkan pemerintah. Pernyataan itu merupakan analisis dan informasi politik yang ia ungkap dalam perbincangan tersebut.

    Kali Ini Listyo Dibuat Tak Sempat Bergerak

    Menurut Mahfud, pola pergantian terakhir berbeda.

    Listyo masih menjalankan agenda resmi bersama Presiden Prabowo pada pagi hari sebelum akhirnya kabar pergantian Kapolri muncul.

    Presiden Prabowo kemudian melantik Komjen Suyudi Ario Seto sebagai Kapolri pada 1 Oktober 2026. Listyo sendiri dipindahkan menjadi Kepala Staf Kepresidenan.

    Bagi Mahfud, timing tersebut bukan kebetulan.

    Ia menilai pemberitahuan yang dilakukan secara mendadak membuat proses pergantian berlangsung cepat dan sulit dihentikan.

    “Yang terakhir ini menurut saya Pak Prabowo mengambil taktik ini harus diberitahu dulu. Makanya pemberitahuannya mendadak tanggal satu,” ujar Mahfud.

    Mahfud kemudian menyoroti peran Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad dalam proses tersebut.

    Menurut Mahfud, surat pergantian sudah berada di tangan Dasco pada malam sebelumnya. Setelah upacara di Lubang Buaya, proses politik di DPR kemudian bergerak cepat hingga pergantian Kapolri dapat segera diproses.

    “Langsung diumumkan, langsung di antara Dasco langsung fit and proper test, langsung disetujui,” kata Mahfud.

    Dengan pola tersebut, Mahfud melihat tidak ada lagi ruang bagi proses pergantian untuk kembali berlarut-larut.

    “Jadi nggak bisa berkutik lagi nih, pergantian udah terjadi,” ujarnya.

    Listyo Tidak Keluar dari Lingkar Istana

    Ada bagian lain yang juga menjadi perhatian Mahfud.

    Setelah dicopot dari posisi Kapolri, Listyo tidak meninggalkan pemerintahan. Presiden justru menempatkannya sebagai Kepala Staf Kepresidenan.

    Secara resmi, Listyo menyebut jabatan tersebut sebagai bentuk pengabdian kepada bangsa.

    Namun Mahfud membaca langkah tersebut dari perspektif berbeda.

    Ia menilai pemindahan Listyo ke KSP membuat mantan Kapolri itu tetap berada di dalam lingkar pemerintahan.

    “Lalu ke mana Listyo Sigit? Itu dipindah ke KSP,” kata Mahfud.

    Mahfud bahkan menggunakan istilah “dikurung” untuk menggambarkan tafsirnya terhadap posisi baru Listyo.

    “Karena kalau dilepas di luar, itu kan bisa berbahaya. Artinya bisa mengganggu lah, berbahaya sih nggak. Tapi bisa mengganggu, kurung aja di sini,” ujar Mahfud.

    Istilah tersebut merupakan analisis pribadi Mahfud, bukan keterangan resmi pemerintah mengenai alasan Presiden menempatkan Listyo sebagai Kepala Staf Kepresidenan.

      Ikuti kami di Facebook