
Kini, perjuangan tersebut membuahkan hasil. Bhita menjadi satu-satunya wakil Bangka Belitung yang masih bertahan di Top 11 D’Academy 8.
Bagi Khotijah, pencapaian putrinya menjadi kebahagiaan sekaligus kebanggaan tersendiri. Meski demikian, ia mengaku belum pernah menyaksikan langsung penampilan Bhita di studio karena keterbatasan biaya.
Dari kampung halaman, ia terus memberikan dukungan melalui doa dan komunikasi jarak jauh.
Menurutnya, tantangan yang dihadapi Bhita selama kompetisi bukan hanya soal kemampuan bernyanyi. Tekanan mental, jadwal latihan padat, hingga komentar di media sosial juga menjadi ujian tersendiri.
“Sebagai orang tua pastinya senang dan bahagia, apalagi Bhita satu-satunya yang masih bertahan dari Bangka Belitung. Kami selalu mendoakan dan memberikan semangat karena tantangan mereka di sana bukan cuma menyanyi, tapi juga mental. Kadang latihan sampai tengah malam, istirahat kurang, belum lagi komentar di media sosial. Jadi memang harus kuat mentalnya,” katanya.
Di tengah perjuangan tersebut, bantuan PT Timah menjadi dukungan berarti bagi keluarga Bhita. Bantuan itu membantu meringankan berbagai kebutuhan selama mengikuti kompetisi, termasuk persiapan keluarga dalam mendampingi perjalanan Bhita di Jakarta.
Khotijah juga bercerita bahwa keluarga berupaya memperkenalkan kuliner khas Bangka Belitung melalui buah tangan yang disiapkan untuk juri dan tim D’Academy.
“Pastinya senang banget karena bantuan ini sangat berarti buat kami. Selama Bhita mengikuti kompetisi, banyak kebutuhan yang harus dipersiapkan. Bukan hanya untuk perjalanan, tetapi juga kebutuhan selama di Jakarta, termasuk oleh-oleh khas Bangka Belitung yang kami siapkan untuk memperkenalkan makanan daerah kepada para juri dan tim di sana,” ujarnya.