
Gera mengaku sebelum berkunjung ia memiliki pandangan seperti kebanyakan masyarakat awam yang menilai pertambangan identik dengan kerusakan lingkungan. Namun setelah melihat langsung, pandangannya berubah.
“Awalnya saya pikir PT Timah hanya fokus bisnis saja, tanpa memikirkan ekosistem. Tapi ternyata setelah kita lihat langsung, perusahaan justru melakukan banyak upaya setelah aktivitas tambang, mulai dari reklamasi sampai pemberdayaan masyarakat. Lingkungan dan masyarakat benar-benar diperhatikan,” jelasnya.
Ia berharap masyarakat tidak langsung menilai negatif pertambangan tanpa melihat fakta lapangan. Dirinya juga berharap, PT Timah Tbk dapat terus meningkatkan pengelolaan lingkungan dan pemberdayaan masyarakat.
“Kalau menganggap pertambangan buruk atau masih ragu, datang saja langsung ke Bangka untuk melihat sendiri apa yang sudah dilakukan PT Timah,” katanya.
Senada dengan disampaikan Arina, mahasiswa Ilmu Administrasi Niaga Universitas Indonesia. Ia mengaku kunjungan hari pertama ke KIP menjadi pengalaman yang tak terlupakan karena untuk pertama kalinya ia harus menyeberang laut untuk melihat operasi pertambangan lepas pantai.
Menurut Arina, kunjungan ke kawasan reklamasi Air Jangkang menjadi titik balik pemahaman dirinya mengenai pertambangan.
“PT Timah itu ngelakuin reklamasi dan lain-lain itu bukan cuman sekedar ke masyarakat tapi juga mempehatikan satwa liar gitu. Di Kampoeng Reklamasi Air Jangkang saya ngeliatin banyak banget satwa-satwa yang dilindungi dirawat dulu sebelum dilepasliarkan. Ini hal yang sebelumnya tidak pernah aku bayangkan,” ujarnya.