
Dalam sambutannya, pimpinan Pondok Pesantren Hidayatussalikin, K.H. Ahmad Ja’far Siddik berharap agar penanaman pohon kakao tidak hanya berhenti di tahap awal tetapi juga memastikan kelestariannya dengan bekerja sama dengan petani binaan/mitra. Kerjasama ini dilakukan mulai dari tahap perawatan, pengelolaan hasil hingga menjaga harga jual produk di level petani.
Pada kesempatan ini, Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menyerahkan bibit kakao unggul secara simbolis kepada Pondok Pesantren Hidayatussalikin serta perwakilan petani kakao binaan serta penyerahan plakat kolaborasi hijau program perubahan Bank Indonesia. Lebih lanjut, sebelum dilakukan penanaman pohon secara simbolis terdapat sesi demo pengolahan biji kakao dari Komunitas Kovertur Bangka (KOKOA). Kegiatan ini menandai sinergi lintas instansi dalam mendorong transformasi ekonomi yang lebih hijau, inklusif, dan berdaya saing untuk pelaku UMKM dan petani lokal.
Selain di lahan milik Pondok Pesantren Hidayatussalikin, penanaman kakao secara massal akan dilaksanakan di beberapa lokasi, yaitu di Pemali (Kabupaten Bangka); Maras Senang (Kabupaten Bangka); dan Tepus (Kabupaten Bangka Selatan). Penanaman ini melibatkan kelompok petani kakao yang merupakan supplier tetap dari Komunitas Kovertur Bangka (KOKOA) sebagai mitra industri pengolahan kakao di Pangkalpinang.
Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Bangka Belitung akan terus berperan aktif dalam mendukung agenda nasional untuk mencapai Net Zero Emission melalui kebijakan makroekonomi dan keuangan hijau, serta langkah-langkah nyata yang dapat berdampak langsung bagi lingkungan dan masyarakat.(*)