
“Dengan adanya bantuan ini kami bisa menampung ikan-ikan yang kami data dan juga dapat menampung bibit untuk pengembangan kedepannya. Dan disitu juga sebagai bahan-bahan penelitian para mahasiswa dan peneliti nasional. Semuanya ada disitu, apabila para peneliti membutuhkan spesiment untuk penelitian, jadi tidak perlu jauh langsung ke alam, tinggal datang ke Sekretariat kami ini. Ini dapat menghemat waktu dan otomatis lebih terarah,” ungkapnya.
Ia menceritakan, banyak hal yang mereka alami dalam melestarikan ikan endemik, namun hal ini tak menyurutkan semangat mereka untuk menjaga kelestarian ikan endemik.
“Pada awalnya saat mendata ikan kami sempat diusir oleh masyarakat. Kami juga pernah di usir warga satu kampung saat mengedukasi tentang menangkap ikan yang baik karena mereka tidak terima. Hindari menangkap ikan dengan cara racun dan setrum, membuat spesies ikan kecil-kecil ikut mati akibat cara tangkap seperti itu.Sekarang sebanyak 10.000 bibit ikan sudah dikembalikan ke habitatnya,
endemik, netive yakni jenis Rasbora, catfish, Gurame, Betok, dan selincah,” ujar Suwarlanda.
Menurut pengalaman The Tanggokers Suwarlanda mengungkapkan, paling sulit memberi edukasi pelestarian ikan endemik kepada masyarakat.
“Hal paling berat yaitu memberikan edukasi kepada masyarakat, agar paham pentingnya melestarikan keanekaragaman hayati biota air tawar asli daerah. Musim panas tahun 2022 maaf dapat dirasakan panen ikan air tawar cukup banyak. Kondisi ini membuat saya semangkin yakin akan tujuan untuk pendataan, edukasi, konservasi, dan menjaga ekologi ikan air tawar Kepulauan Bangka Belitung akan terwujud,” pungkasnya.