
INTRIK.ID, MANDALIKA — Panas lintasan menjadi salah satu tantangan yang harus dihadapi pembalap dalam Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 di Sirkuit Internasional Mandalika, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat. Temperatur aspal yang tinggi dapat memengaruhi pengelolaan ban dan strategi balap, baik di kelas Moto3, Moto2, maupun MotoGP.
Dalam sesi latihan MotoGP pada Jumat (9/10/2026), temperatur lintasan dilaporkan mencapai 59 derajat Celsius, sementara kelembapan udara berada di angka 71 persen. Kondisi tersebut menjadi ujian fisik bagi pembalap sekaligus tantangan teknis bagi tim dalam menentukan pengaturan motor dan strategi ban.
Laporan tim Tech3 menyebut kondisi tropis Indonesia menjadi tantangan tersendiri bagi Maverick Viñales dan Enea Bastianini pada hari pertama rangkaian Grand Prix.
Panas aspal tidak bisa disamakan dengan suhu udara. Permukaan lintasan yang terkena sinar matahari dapat memiliki temperatur jauh lebih tinggi daripada udara di sekitarnya. Kondisi ini membuat pemantauan temperatur ban dan tingkat cengkeraman menjadi bagian penting dari persiapan balapan.
Mandalika berada di kawasan pesisir selatan Pulau Lombok. Karakter geografis ini membuat kondisi panas dan angin menjadi faktor yang perlu diperhitungkan selama penyelenggaraan balapan.
Pengelola sirkuit, Mandalika Grand Prix Association (MGPA), sebelumnya menjelaskan bahwa temperatur lintasan menjadi salah satu pertimbangan dalam strategi ban pembalap.
Dalam balapan motor, ban berperan penting untuk menjaga cengkeraman saat menikung, mengerem, dan berakselerasi. Perubahan temperatur permukaan lintasan dapat memengaruhi cara ban bekerja, sehingga tim perlu menyesuaikan pilihan ban dan pengaturan motor dengan kondisi aktual.
Angin juga dapat menjadi faktor tambahan. Perubahan arah dan kekuatan angin berpotensi memengaruhi kestabilan motor, terutama ketika pembalap melaju di lintasan lurus atau memasuki tikungan. Namun, dampaknya bergantung pada kondisi angin saat balapan berlangsung.
Balapan Mandalika tahun ini berlangsung pada Oktober, ketika kondisi cuaca di sejumlah wilayah Indonesia masih bervariasi. Karena itu, anggapan bahwa musim kemarau selalu berarti cuaca panas tanpa hujan tidak sepenuhnya tepat.
Prakiraan BMKG untuk Kabupaten Lombok Tengah pada Minggu (11/10/2026) menunjukkan kondisi cerah berawan dengan suhu udara sekitar 23–33 derajat Celsius.
Prakiraan tersebut menggambarkan kondisi cuaca di wilayah setempat, bukan temperatur permukaan aspal di sirkuit. Kondisi aktual di lintasan juga dapat berubah mengikuti perkembangan cuaca.
Jika hujan turun, tantangan bagi pembalap dapat berubah. Permukaan lintasan yang basah menuntut penyesuaian terhadap ban, pengereman, dan cara menjaga kestabilan motor. Sistem drainase pun menjadi bagian penting untuk membantu mengalirkan air dari lintasan.
MGPA menyatakan pemeriksaan drainase dilakukan secara berkala, terutama untuk mengantisipasi periode dengan intensitas hujan tinggi.
Mandalika digunakan untuk tiga kelas utama dalam rangkaian Grand Prix, yakni Moto3, Moto2, dan MotoGP. Ketiganya memakai lintasan sepanjang 4,3 kilometer dengan 17 tikungan, terdiri atas enam tikungan kiri dan 11 tikungan kanan.
Meski berada di sirkuit yang sama, tuntutan balapan di setiap kelas tidak sepenuhnya identik. Perbedaan karakter motor, kecepatan, pengaturan teknis, serta strategi tim membuat setiap kelas memiliki tantangannya masing-masing.
Pada MotoGP, tenaga dan kecepatan motor yang lebih tinggi membuat pengelolaan performa serta kestabilan menjadi perhatian penting. Sementara itu, persaingan di Moto2 dan Moto3 juga menuntut pembalap menjaga konsistensi, memilih jalur balap yang tepat, dan mengelola ban sepanjang perlombaan.
Karena itu, kondisi panas di Mandalika bukan persoalan satu pembalap atau satu kelas saja. Seluruh tim harus membaca kondisi lintasan dan menyesuaikan strategi berdasarkan data serta situasi yang mereka hadapi.
Menjelang balapan, MGPA meningkatkan intensitas pemeliharaan sirkuit, termasuk pemeriksaan permukaan aspal dan fasilitas pendukung keselamatan. Pengelola menyatakan kondisi aspal secara umum masih baik dan aman, dengan sejumlah goresan yang ditangani melalui metode pemeliharaan yang sesuai.
Kesiapan lintasan menjadi penting karena pembalap membutuhkan permukaan yang konsisten untuk mengerem, menikung, dan berakselerasi pada kecepatan tinggi.
Dengan temperatur aspal yang sempat mencapai 59 derajat Celsius saat latihan, panas menjadi salah satu faktor yang layak diperhatikan dalam persaingan di Mandalika. Namun, hasil balapan tetap ditentukan oleh kombinasi kemampuan pembalap, kesiapan motor, strategi ban, dan kondisi lintasan ketika perlombaan berlangsung.