47 Negara Jadi Pasien IMF, Presiden Wanti-wanti Kepala Daerah

    INTRIK.ID, BOGOR – Presiden RI, Joko Widodo menyampaikan bahwa guncangan ekonomi karena pandemi dan perang sudah menyebabkan 47 negara masuk menjadi pasien IMF.

    Untuk itu, Presiden menegaskan, semua elemen mulai dari pemerintah pusat sampai pemerintah daerah, harus sudah memiliki frekuensi yang sama. Terutama, dalam menghadapi situasi yang tidak mudah ini.

    “Situasi global masih sangat tidak mudah. Sekarang yang menjadi momok semua negara adalah yang namanya inflasi, ini momok semua negara dan patut kita syukuri inflasi kita terakhir di 5,5 persen berkat kerja keras kita semuanya. Coba dilihat di negara lain bahkan sudah ada yang sampai 92 persen,” ucapnya, saat Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Kepala Daerah dan Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) di Sentul International Convention Center, Kabupaten Bogor, Selasa (17/1/2023).

    Presiden Jokowi mensyukuri saat ini ekonomi Indonesia pada posisi yang baik dibandingkan negara-negara lain, sebab hingga kuartal ketiga, pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa tumbuh di angka 5,72 persen. Hal itu meningkat jika dibandingan pertumbuhan ekonomi secara tahunan (year on year) pada tahun 2022 yang berada di angka 5,2 persen.

    Space Iklan/0853-1197-2121

    Namun, ia mengingatkan akan ujian ekonomi di tahun 2023, termasuk inflasi yang disebabkan oleh bahan pokok seperti tomat hingga cabai. Oleh karena itu, langkah pengendalian inflasi harus bisa disikapi oleh para Kepala Daerah agar bisa menyusun kebijakan sehingga harga bahan pokok khususnya dapat terjangkau.

    “Apa yang harus dilakukan saya sudah tidak ingin mengulang lagi bagaimana menutup ongkos transportasi, meningkatkan produktivitas petani, misalnya tomat mahal perintahkan tanam tomat, cabe mahal perintahkan tanam cabai. Saya gak usah ulang,” tegasnya.

    Selain itu, dirinya menyampaikan bahwa guncangan ekonomi karena pandemi dan perang sudah menyebabkan 47 negara masuk menjadi pasien IMF. Hal yang pernah dialami Indonesia pada krisis moneter 1997-1998.

    “Kita ingat tahun 1997-1998 Indonesia menjadi pasiennya IMF, ambruk ekonomi dan ambruk politiknya. Ini 47 negara dan yang lain masih antre di depan pintunya IMF,” tuturnya.

    Space Iklan/0853-1197-2121

    Rakornas yang bertajuk ‘Penguatan Pertumbuhan Ekonomi dan Pengendalian Inflasi’ ini dihadiri juga oleh Pj Gubernur Babel, Ridwan Djamaludin beserta ribuan undangan lainnya. (*/red)

     

    Tagged with:
    Presiden
    Mungkin Suka Ini juga:
    Belitung Bersiap Mendunia, BI Gaspol Perkuat Pariwisata dan UMKM Usai Dibukanya Rute Internasional

    Belitung Bersiap Mendunia, BI Gaspol Perkuat Pariwisata dan UMKM Usai Dibukanya Rute Internasional

    Amsyar Bikin 100 Anak Terdiam, Siswa MTs Bahrul Ulum Juara 1 Duta Dongeng BI 2026

    Amsyar Bikin 100 Anak Terdiam, Siswa MTs Bahrul Ulum Juara 1 Duta Dongeng BI 2026

    Dilantik Jadi Ketua KONI Babel Periode Kedua, Ricky Kurniawan Bidik 5 Emas di PON NTB-NTT

    Dilantik Jadi Ketua KONI Babel Periode Kedua, Ricky Kurniawan Bidik 5 Emas di PON NTB-NTT

    Tingkatkan Sistem Pengamanan Operasional, PT Timah Gandeng Polda Babel

    Tingkatkan Sistem Pengamanan Operasional, PT Timah Gandeng Polda Babel

    Sebut Wartawan “Lebih dari Intel”, Kapolda Babel Instruksikan Humas Standby 24 Jam untuk Media

    Sebut Wartawan “Lebih dari Intel”, Kapolda Babel Instruksikan Humas Standby 24 Jam untuk Media

    Kapolda Babel ke Insan Pers: Berani dan Bertanggung Jawablah, Jangan Tunduk pada Pemilik Modal!

    Kapolda Babel ke Insan Pers: Berani dan Bertanggung Jawablah, Jangan Tunduk pada Pemilik Modal!