Pemain Laos Dikabarkan Ditangkap karena Match Fixing, Kasus AFF 2010 Timnas Indonesia Kembali Diingat

    Caption: Para pemain Timnas Indonesia saat kalah di Final Piala AFF 2020.

    INTRIK.ID — Dugaan pengaturan skor kembali membayangi sepak bola Asia Tenggara. Seorang pemain Timnas Laos, Soukphachan Lueanthala, dikabarkan ditangkap terkait dugaan match fixing selama Piala AFF 2026. Kabar ini mengingatkan publik pada polemik final Piala AFF 2010 yang sempat membuat sejumlah pemain Timnas Indonesia mendatangi kepolisian untuk memberikan klarifikasi.

    Laporan detikSport pada 9 Oktober 2026 menyebut Lueanthala ditangkap atas dugaan keterlibatan dalam pengaturan skor selama turnamen. Ia disebut diduga memberi instruksi kepada rekan setim dan menjadi perantara bagi pihak-pihak yang terlibat.

    Meski demikian, informasi penangkapan tersebut belum dikonfirmasi secara resmi oleh Federasi Sepak Bola Laos (LFF) maupun Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC). Karena itu, dugaan keterlibatan pemain tersebut belum dapat diperlakukan sebagai kesimpulan hukum.

    Kasus ini menjadi sorotan setelah Timnas Laos menelan empat kekalahan dalam turnamen, masing-masing dari Thailand dengan skor 0-5, Malaysia 0-4, Filipina 1-4, dan Myanmar 2-7.

    Hasil buruk tersebut dilaporkan memicu kecurigaan di internal sepak bola Laos. Sebelumnya, LFF dikabarkan telah menyampaikan dugaan pengaturan skor kepada aparat pada 7 Agustus 2026. Namun, laporan mengenai pengaduan itu juga belum disertai konfirmasi resmi dari federasi maupun kepolisian setempat.

    AFF 2010, Pemain Indonesia Pernah Datangi Polda

    Jauh sebelum kabar dari Laos mencuat, sepak bola Indonesia juga pernah dihadapkan pada isu pengaturan skor yang dikaitkan dengan final Piala AFF 2010.

    Pada 29 Desember 2018, lima mantan pemain Timnas Indonesia, yakni Ponaryo Astaman, Firman Utina, Maman Abdurrahman, Markus Horison, dan Hamka Hamzah, mendatangi Polda Metro Jaya.

    Kedatangan mereka bukan dalam status sebagai pemain yang terbukti melakukan pengaturan skor, melainkan untuk memberikan klarifikasi kepada Satgas Antimafia Bola terkait isu yang kembali beredar mengenai final AFF 2010.

    Kala itu, Ponaryo yang juga menjabat General Manager Asosiasi Pesepakbola Profesional Indonesia (APPI) menyampaikan bahwa para pemain membantah tudingan pengaturan skor dan menjelaskan informasi yang mereka ketahui kepada Satgas.

    Polemik tersebut berkaitan dengan kekalahan Indonesia 0-3 dari Malaysia pada leg pertama final AFF 2010. Indonesia kemudian menang 2-1 pada leg kedua, tetapi kalah secara agregat dan gagal meraih gelar juara.

    Pada akhir Desember 2018, kepolisian menyatakan keterangan para pemain masih perlu didalami dan dicocokkan dengan informasi dari pihak lain. Dengan demikian, kedatangan mereka ke Polda tidak bisa diartikan sebagai bukti bahwa pengaturan skor dalam final tersebut telah terbukti terjadi.

    Dugaan Harus Dibuktikan, Bukan Berhenti pada Kecurigaan

    Dua peristiwa yang terpaut lebih dari satu dekade itu menunjukkan bahwa dugaan match fixing dapat mengguncang kepercayaan publik terhadap pertandingan sepak bola. Namun, penanganan setiap kasus harus dibedakan berdasarkan bukti, proses penyelidikan, dan status hukum orang yang disebut terlibat.

    Dalam kasus Laos, kabar penangkapan Lueanthala masih membutuhkan konfirmasi resmi dan perkembangan penyidikan. Sementara dalam polemik AFF 2010, fakta yang terverifikasi dari pemberitaan saat itu adalah para pemain Indonesia mendatangi Polda untuk memberikan klarifikasi dan membantah tudingan yang beredar.

    Karena itu, kedua peristiwa tersebut tidak dapat disamakan begitu saja. Dugaan terhadap pemain Laos perlu diuji oleh proses hukum, sedangkan isu yang menyeret pemain Indonesia pada 2010 tidak boleh dihidupkan kembali seolah-olah mereka telah terbukti melakukan kecurangan.

    Bagi sepak bola Asia Tenggara, tantangannya bukan hanya memenangkan pertandingan, melainkan juga memastikan setiap laga berlangsung secara adil dan setiap dugaan kecurangan diperiksa secara transparan.

      Ikuti kami di Facebook