
Pada 26 September 2025, Komite Disiplin FIFA menjatuhkan sanksi kepada FAM dan tujuh pemain setelah menemukan pelanggaran terkait penggunaan dokumen yang telah diubah dalam proses pengajuan kelayakan pemain.
FAM dikenai denda 350.000 franc Swiss. Sementara itu, masing-masing pemain dijatuhi denda dan larangan beraktivitas dalam sepak bola selama 12 bulan.
FAM dan para pemain mengajukan banding. Namun, pada November 2025, Komite Banding FIFA menguatkan sanksi yang sebelumnya dijatuhkan.
Perkara tersebut kemudian berlanjut ke Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS). Pada Maret 2026, CAS mengubah lingkup larangan terhadap para pemain sehingga hanya berlaku untuk pertandingan resmi. Meski demikian, denda terhadap FAM tetap dipertahankan.
Rangkaian proses itu menjadi latar penting di balik kritik Molina. Kasus tersebut bukan sekadar rumor di media sosial, melainkan perkara yang telah melalui proses disipliner di tingkat FIFA dan banding di CAS.
Masuknya FAM dalam nominasi penghargaan AFC tidak otomatis berarti federasi itu telah memenangkan penghargaan atau bahwa AFC membenarkan pelanggaran yang pernah terjadi.
Namun, keputusan tersebut tetap membuka ruang bagi publik untuk mempertanyakan kriteria penilaian yang digunakan. Apalagi, persoalan yang menjerat FAM berkaitan dengan integritas dokumen dan kelayakan pemain untuk membela tim nasional.
Kritik Molina menempatkan AFC dalam posisi yang perlu menjelaskan dasar pencalonan tersebut. Apakah penilaian lebih bertumpu pada program pengembangan sepak bola, pencapaian organisasi, atau juga mempertimbangkan rekam jejak kepatuhan dan tata kelola?