
INTRIK.ID, JAKARTA — Pasar saham Indonesia menghadapi tekanan berat pada perdagangan Jumat (16/10/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat merosot 11,4 persen, sementara penghentian sementara perdagangan saham atau trading halt menambah kekhawatiran pelaku pasar.
Guncangan ini terjadi di tengah sorotan terhadap tata kelola pasar modal Indonesia. Morgan Stanley Capital International (MSCI), penyedia indeks saham global yang menjadi acuan banyak investor, tengah mengkaji kemungkinan menurunkan status pasar Indonesia dari emerging market menjadi standalone market.
Bagi investor, persoalan tersebut bukan sekadar perubahan label. Jika benar-benar diterapkan, perubahan klasifikasi itu berpotensi memengaruhi keputusan pengelola dana global dalam menempatkan investasinya di Indonesia.
Tekanan sudah terlihat sejak awal perdagangan. IHSG dibuka melemah sekitar 8 persen ke level 5.393,92. Bursa Efek Indonesia (BEI) kemudian menghentikan sementara perdagangan setelah penurunan indeks mencapai ambang 8 persen.
Langkah tersebut merupakan mekanisme pengamanan perdagangan ketika pasar mengalami penurunan tajam. Namun, penghentian sementara itu tidak serta-merta menghilangkan tekanan jual ketika perdagangan kembali dibuka.
Penurunan IHSG kali ini memperlihatkan besarnya tekanan yang menimpa pasar. Sejumlah saham berkapitalisasi besar, termasuk sektor perbankan dan telekomunikasi, ikut melemah.
Saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk. (BBRI), PT Bank Mandiri Tbk. (BMRI), dan PT Telkom Indonesia Tbk. (TLKM) termasuk yang mengalami tekanan pada awal perdagangan.