Jadi Penyebab Tingginya Inflasi, Pj Gubernur Imbau Masyarakat Tanam Cabai

IMG 20230204 WA0016

INTRIK.ID, PUDING BESAR – Penjabat (Pj) Gubernur Kepulauan Bangka Belitung Ridwan Djamaluddin mengimbau agar masyarakat dapat aktif dan terus menanam cabai

Hal itu dikatakannya saat menghadiri panen cabai merah milik Kelompok Tani Serdadu di Desa Puding Besar, Kabupaten Bangka, Jumat (3/2/2023).

Apalagi, kata dia, cabai menjadi salah satu komoditi yang paling dibutuhkan oleh masyarakat, khususnya di wilayah Sumatera, sekaligus penyebab tingginya inflasi di Indonesia pada tahun 2022 lalu.

“Bapak/Ibu para kelompok tani jangan pikir soal harga ya, soal harga nanti ditangani pemerintah. Saya mohon dengan sangat Bapak/Ibu tanam saja. Nanti soal menjaga kestabilan harga, soal pengiriman ke pasar dan lain-lain, itu biar ditangani oleh pemerintah,” katanya.

Ia mendorong masyarakat untuk lebih bersemangat dalam bertani. Hanya saja, dalam prosesnya memerlukan sentuhan teknis yang perlu menjadi perhatian seperti harus dipupuk, dan dirawat dengan baik. Selain itu, bukan tidak mungkin kondisi ini akan membuka peluang lapangan kerja bagi masyarakat yang memiliki keahlian di bidang pertanian, seraya juga berharap pihak perbankan dapat mendukung upaya pertumbuhan ekonomi di sektor pertanian ini.

“Karena memang salah satu hal penting yang kita lakukan sekarang adalah menyediakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat kita. Kalau kita berhasil membuka lapangan pekerjaan di sektor pertanian, maka kita akan melakukan transformasi ekonomi bagi masyarakat Bangka Belitung ini. Jadi, sekali lagi saya sangat mendorong bapak-bapak ibu-ibu juga yaitu silakan bertani,” ujarnya.

Selain itu, disela bertani Pj Gubernur Ridwan Djamaluddin juga mendorong masyarakat untuk beternak ayam. Dikatakannya, telur ayam merupakan komoditi lain yang juga menjadi penyebab inflasi di Babel pada 2022 lalu. Ketika inflasi tinggi, setiap hari Negeri Serumpun Sebalai membeli telur dari luar sebanyak 600.000 butir.

“Saya berharap anak-anak muda yang tinggal di Puding Besar lebih proaktif, lebih berani melakukan kegiatan-kegiatan inovatif. Saya berpikir dengan panen cabai satu hektar hasil panen kurang lebih 300 kilogram, pasti kebutuhan lebih lah dari kebutuhan masyarakat di sini. Apakah nanti mau dijadikan industri hilir sekalian mulai juga kita pikirkan, apakah cabainya nanti sebagian bisa dikeringkan, dijemur, digiling, ditumbuk, sehingga menjadi produk yang bisa dikemas dalam kemasan,” katanya. (*/red)

 

 

Home
Adv
Redaksi
Cari
Ke Atas