LSM KPMP Bangka Mencium Dugaan Aroma Kejanggalan, Penyaluran BBM Untuk Nelayan.

IMG 20221216 WA0002
Caption: Ketua LSM KPMP Kabupaten Bangka Suhendro

BANGKA. SUNGAILIAT. INTRIK.ID – Bagi para nelayan tangkap, BBM merupakan sesuatu yang primer. Tanpa BBM sangat sulit nelayan melakukan aktifitasnya, namun apa jadinya jika aturan diterapkan tidak sama.

Secara aturan nelayan bisa mengambil BBM apabila sudah mengantongi Surat Persetujuan Berlayar ( SPB ), Pas Besar/Pas kecil, SIPI/TDKP. Menurut ketua LSM KPMP Suhendro Khusus di Kabupaten Bangka, pihaknya mencium aroma kejanggalan penyaluran BBM jenis Solar untuk nelayan.

“Awalnya kita mendapatkan keluhan dari nelayan pelabuhan Jelitik dan Parit Pekir. Mereka merasa aturan diterapkan tidak sama dalam mendapatkan Surat Rekomendasi Pembelian BBM (solar) di SPDN/SPBUN yang ada di Kabupaten Bangka, dimana untuk SPDN/SPBUN di area wilayah PPN Sungailiat harus memiliki SPB terlebih dahulu sedangkan di SPDN Rebo, Nelayan 2 dan Batu Dinding Belinyu tidak seperti itu. Nah kondisi ini patut menjadi catatan kami ada apa ini,” kata Suhendro, Jumat ( 16/12/2022) sore di Sungailiat.

Suhendro menyampaikan berdasarkan keluhan nelayan Parit Pekir ada perbedaan dalam sistem pengeluaran Surat Rekomendasi pembelian BBM (Solar) antara SPDN Rebo, Nelayan 2 dan Batu Dinding dengan SPDN di wilayah PPN Sungailiat.

“Menurut keterangan nelayan Parit Pekir Surat Rekomendasi Pembelian BBM (solar) untuk di wilayah PPN Sungailiat dikeluarkan sesuai dengan SPB yang telah dikeluarkan oleh Syahbandar, dimana sekarang satu SPB hanya mendapatkan satu kali Surat Rekomendasi, sedangkan di SPDN Rebo, Nelayan 2 banyak yang tidak memiliki SPB dan untuk Batu Dinding tidak ada SPB sama sekali. Pertanyaan saya kenapa aturan tidak diterapkan sama, nah kalau nelayan di SPDN Batu Dinding Belinyu itu bagaimana Surat Rekomendasi nya, Terus pengurusan SPB seperti apa,” ujarnya.

Menurut pentolan LSM KPMP Bangka itu, dirinya sudah menemui Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Bangka pertanyakan hal tersebut.

“Saya sudah bertemu Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Bangka bapak Arman, dasar terbitnya rekom ambil BBM nelayan bagaimana. Keterangan dari Dinas Perikanan Kabupaten Bangka dari tanggal 14 Desember sampai dengan tanggal 10 November saja sudah keluar kurang lebih1000 SPB sebagai dasar pengeluaran Surat rekomendasi untuk kapal perikanan yang mendapatkan BBM (solar) di wilayah PPN Sungailiat, sedangkan untuk SPDN Rebo dan Nelayan 2 kurang lebih hanya 19 SPB saja. kuota BBM SPDN Rebo dan Nelayan 2 kurang lebih 80 Ton/bulan tiap SPDN. Kita tanya nelayan rebo kebanyakan pakai pertalite, gunakan mesin Tempel bukan Dompeng, kemana sisa BBM Solar sebanyak itu sedangkan SPB yang keluar dari Syahbandar hanya 19,” sebut Suhendro.

Pihak LSM KPMP mendukung aturan diterapkan, akan tetapi jangan ada perbedaan ini memicu kecemburuan antar nelayan.

“Seperti SPDN daerah Rebo, Nelayan 2 atau Batu dinding apakah aturan dimaksud dilakukan atau tidak. Saya setuju aturan diterapkan supaya BBM tepat sasaran . Namun jangan sampai ada perbedaan aturan bisa bikin cemburu sosial.

Kejanggalan juga disampaikan Suhendro soal pengawasan SPDN terkesan tebang pilih.

“Kita Ambil contoh untuk SPDN Rebo, SPDN Nelayan 2 dan SPDN Batu Dinding aturan tidak ketat , kenapa hanya SPDN di wilayah PPN Sungailiat sangat ketat aturannya sedangkan daerah Rebo, Nelayan 2 dan Batu dinding seperti apa ? Dalam waktu dekat saya akan berkoordinasi kepada Pihak Migas, bertanya apakah memang ada perbedaan aturan di setiap SPDN,” ungkapnya.

Terpisah kepala Dinas Perikanan Kabupaten Bangka Arman saat dikonfirmasi Redaksi INTRIK.ID melalui pesan singkat WhatsApp ( WA ) pukul 15 : 58 WIB, meminta tanggapan soal LSM KPMP Bangka Mencium Aroma Kejanggalan Penyaluran BBM Untuk Nelayan, belum ada jawaban.

Home
Adv
Redaksi
Cari
Ke Atas