Mehoa: Arak Bisa Untuk Obat Hingga Bahan Masakan

IMG 20220908 WA0007
Foto: Ketua DPRD Bangka Tengah, Mehoa. (Erwin/intrik)

INTRIK.ID, BANGKA TENGAH – Arak di Bangka memiliki sejarah panjang terutama bagi masyarakat etnis Tionghoa.

Ketua DPRD Bangka Tengah, Mehoa mengatakan arak putih tidak dikonsumsi oleh sembarang orang, Kamis (8/9/2022).

Ia menerangkan bahwa arak digunakan sebagai penghormatan kepada leluhur bagi umat agama Konghucu atau etnis Tionghoa. Bahkan etnis Tionghoa beragama Budha dan Katolik masih mengikuti budaya asal penghormatan kepada leluhur di saat tradisi Cheng Beng dan Chit Ngiat Pan dan Sam Sip Pu.

“Untuk di Pulau Bangka dan Belitung sebenarnya arak digunakan untuk Sajian penghormatan sembahyang pada orang tua atau penghormatan leluhur tapi bukan cuma agama Konghucu saja, kami yang Katolik pun saat saat hari-hari warisan budaya itu ikut orang tua melaksanakan penghormatan, ” ucap Mehoa.

Ia juga menuturkan, jika arak bisa digunakan sebagai ramuan obat hingga bahan masakan atau bumbu dapur.

“Untuk masakan tertentu wajib pakai arak, tidak enak dan beda aromanya jika tidak pakai arak. Makanan yang paling membutuhkan bumbu arak yang cukup banyak itu namanya Ayam Goreng Arak. Menu spesial ini biasanya menu wajib diacara ulang tahun seseorang terutama saat umur 33,” pungkasnya.

Mehoa juga menyebutkan, arak juga digunakan untuk orang pasca melahirkan untuk melancarkan peredaran darah mendorong produksi Asi. Menurutnya, mengkonsumsi arak paska melahirkan bisa merangsang saraf-saraf peredaran darah dalam tubuh.

“Biasanya Ayam Arak dikonsumsi sampai 40 hari. Tapi ada juga yang tidak biasa makan masakan spesial Ayam Arak dan kualitas arak dari ketan/ beras berkualitas, takaran spesial dinamakan Thiam Ciu,” ucapnya.

Ia menceritakan bahwa arak berkualitas disimpan para orang tua di rumahnya untuk menjamu tamu dan menjadi minuman penghantar tidur.

“Biasanya sambil ngobrol dengan teman-teman dan keluarga seangkatannya. Mereka minum arak bersama, konsumsinya sesuai takaran, 1 loki atau 2 loki saja gak seliter juga,” tuturnya sembari bercanda.

“Biasanya abis minum para orang tua pergi tidur pulas malam hari atau bahkan siang hari, tapi biasanya dikonsumsi sebelum tidur dan dianggap bagus untuk kesehatan,” lanjutnya.

Beberapa orang tua di jaman dulu hingga sekarang masih membeli arak sebagai bentuk penghormatan kepada tamu untuk perjamuan bahwa sang pemilik rumah sangat senang jika ada tamu.

“Sebenarnya gak semua orang Tionghoa dan lainnya bisa minum arak ini,” ujar Mehoa.(Erwin)

 

 

Home
Adv
Redaksi
Cari
Ke Atas