Opini  

Putus Sekolah: Pekerjaan Rumah yang tak Kunjung Terselesaikan

IMG 20220728 WA0021

Oleh : Nurul Aryani (Tenaga Pendidik dan Aktivis Smart With Islam)

“Pendidikan adalah senjata paling mematikan di dunia, karena dengan pendidikan anda dapat mengubah dunia”
(Nelson Mandela)

Manusia mampu berkembang seiring sejalan dengan pendidikannya. Pendidikan adalah prioritas bagi bangsa manapun. Karena pendidikan adalah wadah untuk mencetak generasi yang siap mengambil estafet kepemimpinan. Pendidikan juga merupakan salah satu “cetakan” terbaik untuk membentuk manusia yang berbudi pekerti luhur serta memiliki kecemerlangan dalam ilmu dan keahlian.

Namun apa jadinya jika angka anak yang putus sekolah dan tidak melanjutkan pendidikannya lagi semakin memprihatinkan. Juli ini, Intrik.id merilis data akumulasi angka putus sekolah di Bangka Tengah yang mencapai 65.302 orang dan yang terbanyak berhenti pada jenjang SMP yakni sebanyak 45.468 orang. Angka rata-rata lama pendidikan di Bangka Tengah juga hanya mencapai 7,20 tahun atau terhenti di jenjang SMP kelas 2. Kepala Dinas Pendidikan Bangka Tengah, Iskandar mengatakan empat hal yang menjadi sebab anak putus sekolah. Yakni Finansial, broken home, keinginan pribadi dan sudah bekerja. Paling banyak ditemui yaitu keinginan pribadi yakni kehilangan motivasi belajar dan kemauan untuk bersekolah. (Intrik.id 14/07/22)

Senada dengan itu, di Kabupaten Bangka Barat dalam kurun waktu tiga tahun (2018-2020) ada 613 orang putus sekolah untuk tingkat SD dan SMP. Putus sekolah tersebut disebabkan karena faktor ekonomi, pendidikan orangtua dan faktor lingkungan. (Wowbabel.com 22/06/22)

Secara Nasional angka putus sekolah lebih memprihatinkan. Berdasarkan data Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi sejak 2016-2019 (sebelum pandemi) rata-rata lebih dari 100.000 anak di Indonesia putus sekolah setiap tahunnya.

Pada masa pandemi juga banyak terjadi anak putus sekolah. Dalam jajak pendapat Litbang Kompas pada 10-13 Februari 2022 lalu sebanyak 31,9 persen responden mengatakan memiliki anak, saudara atau tetangga yang putus sekolah. Lebih dari separuh (56,8 persen) menyatakan sebabnya karena persoalan biaya. Sebab lain juga gim daring sebanyak 3,1 persen. (Kompas.id 02/03/22).

Sebab yang Kompleks

Dari akumulasi data-data yang penulis paparkan, kita bisa melihat bahwa putus sekolah ini bukan sekedar angka saja melainkan ada sebab yang kompleks di dalamnya. Putus sekolah bukanlah masalah baru. Melainkan masalah klasik yang sudah ada sejak orde lama. Semakin bertambah tahun semakin bertambah sebab putus sekolah. Misalnya ada sebab karena gim daring yang tidak ditemui pada beberapa tahun lalu dimana teknologi tidak berkembang semassif hari ini.

Semakin kompleks faktor penyebab membutuhkan semakin serius semua pihak menyikapi ini. Semakin juga membutuhkan perhatian besar. Jika tidak kita akan “kehilangan” produktifitas yang efisien dari generasi kita.

Indonesia juga sedang berjalan menuju puncak bonus demografi delapan tahun lagi. Dimana usia produktif mencapai 70 persen total penduduk Indonesia. Jika jumlah usia produktif beringingan dengan bertambahnya angka putus sekolah maka bisa mengakibatkan Indonesia mengalami kekuarangan generasi yang siap mengambil alih kepemimpinan, kekurangan manusia yang memiliki keahlian dalam ilmu terapan tertentu, semakin meningkatnya pengangguran, kenakalan remaja dan anak, pergaulan bebas dan banyak persoalan lainnya.

Jika kita melihat lebih dekat anak putus sekolah ini disebabkan dua faktor. Yakni faktor internal dan eksternal. Faktor internal misalnya rendahnya minat atau kemauan anak bersekolah, sekolah dianggap tidak menarik dan menyenangkan, ketidakmampuan dalam menerima pelajaran, dan lain-lain. Sedangkan faktor eksternal yakni terkait ekonomi keluarga, kurangnya perhatian orangtua, orangtua bercerai, ikut pergaulan, permasalahan dengan guru atau teman, beban sekolah yang berat, dan lain-lain.

Karena itu, problem putus sekolah haruslah ditangani dengan tepat dan dengan berbagai pendekatan. Misalnya karena persoalan ekonomi. Namun disisi lain banyak juga anak yang menolak untuk melanjutkan sekolah lagi walaupun diberikan beasiswa dan uang saku. Sebut saja yang baru-baru ini viral dalam Citayam Fashion week yaitu remaja SCBD yang ditawari beasiswa oleh Sandiaga Uno (Menparekraf) namun menolak karena tidak mau mengecewakan dan memilih buka usaha saja daripada sekolah dikarenakan bapaknya kerja kasar. Dalam artian dia ingin bisa menolong orangtuanya dalam mencari rezeki.

Disisi lain sekolah yang harusnya menjadi rumah kedua yang nyaman dan menyenangkan kehilangan peran tersebut. Kehilangan minat untuk bersekolah yang membuat anak berhenti sekolah menjadikan gambaran itu semakin tampak nyata. Sekolah dinilai tidak menarik dibandingkan dengan aktivitas lainnya yang anak lakukan. Disinilah pihak terkait harus berperan menjadikan sekolah dan pendidikan seperti magnet bagi generasi yang saling tarik menarik. Menjadikan sekolah sebagai rumah kedua bagi generasi yang nyaman untuk ditinggali dan disinggahi. Begitulah istilah lama mengungkapkan kenyamanan sekolah.

Sekolah dalam proses belajar mengajar juga terkadang menyajikan “beban” berat bagi para pelajar. Dari sisi waktu siswa bersekolah dari jam yang sangat pagi dan pulang pada siang atau bahkan ada yang sampai sore hari diiringi dengan seabrek pekerjaan rumah, laporan, kerja kelompok dan lain-lain. Yang membuat siswa merasakan waktu dan tenaga sangat banyak tekuras. Sementara di usia tersebut siswa juga butuh waktu untuk mengembangkan kreatifitas, minat dan bakat, ketrampilan lain yang mereka senangi yang bisa saja tidak didapatkan di sekolah. Akibatnya siswa mengalihkan diri kepada hal yang bisa menyalurkan beban mereka ke hal yang mereka senangi seperti nongkrong, joget-joget, main gim daring dan lain-lain yang kemudian melalaikan mereka dari bersekolah.

Bergantinya kurikulum juga kerap membuat anak bingung dan hatus beradaptasi kembali. Jangankan para siswa guru saja mengalami kewalahan dalam mengikuti kurikulum yang “sat-set” ini. Adanya sistem zonasi juga menyebabkan siswa tidak bisa masuk ke sekolah yang ia inginkan. Ini juga bisa menjadi faktor hilangnya keinginan untuk bersekolah karena harus masuk di sekolah lain yang kurang ia minati.
Alasan putus sekolah juga banyak ditemukan pada anak yang sudah bekerja. Ini juga menjadi catatan untuk pendidikan kita agar jangan sampai siswa terinstal dalam diri mereka bahwa sekolah agar mudah mencari kerja saja. Karena banyak sekali keutamaan yang didapat dari sekolah. Akibat paradigma yang salah ini mengakibatkan anak yang sudah mendapatkan kerjaan yang ia sukai atau sesuai minatnya ditambah sudah bisa menghasilkan uang menjadi “gelap mata” meninggalkan pendidikannya. Paradigma ini yang harus diubah. Bahwa sekolah untuk menuntut ilmu yang bermanfaat. Ilmu yang bisa diamalkan untuk kemaslahatan manusia yang tidak akan optimal didapatkan kecuali dengan bersekolah.

Artinya persoalan putus sekolah haruslah ditangani dengan pendekatan yang berbeda hari ini. Tidak semata-mata memberikan bantuan ekonomi atau finansial saja. Karena ditemui juga anak yang tetap tidak mau bersekolah walau diberikan uang saku dan beasiswa. Kerasnya hidup membuat anak-anak kita juga ikut memikul beban bersama keluarganya dalam mencari rezeki. Ekonomi juga berkaitan erat dengan pendidikan. Membenahi ekonomi juga bisa membenahi pendidikan.

Islam Mencegah Anak Putus Sekolah
Rasulullah SAW bersabda : “Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap muslim” (HR.Ibnu Majah). Islam memandamg ilmu adalah hal yang harus dimiliki oleh setiap muslim. Menuntut ilmu merupakan kewajiban yang harus ditunaikan. Jika tidak, maka ia telah berdosa dihadapan Allah. Pendidikan adalah proses dan wadah untuk mentransfer ilmu kepada masyarakat yang terstruktur dan tersistematis. Maka negara menjamin adanya pendidikan yang berkualitas di setiap wilayah.
Keseriusan Islam dalam menjalankan pendidikan dan menjamin setiap warga negara mendapatkan pendidikan juga dapat dilihat dengan adanya penggratisan biaya pendidikan dari jenjang setingkat TK hingga Universitas. Semua gratis tanpa dipungut biaya sepeserpun. Hal ini berdasarkan ijma sahabat yang menjadi salah satu sumber hukum yang mewajibkan negara menjamin pembiayaan pendidikan. Hal tersebut diterapkan oleh Khalifah Umar bin Khattab, Khalifah Usman dan para penguasa berikutnya.
Selain menggratiskan biaya pendidikan, siswa juga mendapatkan uang saku setiap bulan. Seperti pada masa Khalifah Al Muhtasir di Baghdad yang mendirikan Madrasah Al Muhtashiriah setiap siswa diberikan beasiswa emas seharga 1 dinar. Dengan kurs 1gram emas 500.000 rupiah maka kala itu para siswa mendapatkan uang bulanan senilai Rp. 2.125.000. Sungguh angka yang tinggi pada masa itu. Muhammad Al Fatih Sang Penakluk Konstantinopel juga melakukan hal yang sama. Beasiswa bulanan rutin diberikan pada para siswa. (Shalabi,2004). Dan tidak ada di negeri manapun yang mempraktikkan hal serupa kecuali di negeri kaum muslimin. Demikian paripurnanya sehingga tidak akan ditemukan anak yang putus sekolah karena permasalah ekonomi.

Islam juga memiliki paradigma yang khas dalam menjalankan pendidikan. Pendidikan dalam Islam bukan semata bertujuan mencetak para pekerja yang sesuai selera pasar. Melainkan membentuk generasi yang berkepribadian Islam. Memiliki pola sikap dan pola fikir yang islami. Sehingga bertebaranlah generasi dengan karakter yang luhur dan pemikiran yang cemerlang. Pendidikan dalam Islam juga memastikan tersedianya ulama, cendekiawan dan ilmuwan yang dibutuhkan oleh masyarakat dan negara. Penguasaan terhadap sains, teknologi, industri, tsaqofah Islam dan ilmu terapan lainnya menjadikan generasi menjadi generasi yang unggul dan berkualitas tinggi. Baik secara duniawi maupun ukhrowi.

Islam juga membangun sekolah-sekolah dengan sarana dan prasarana yang lengkap dan canggih pada masanya. Ini menjadikan sekolah tempat yang nyaman dan patut dikatakan sebagai rumah kedua bagi para siswa. Sebut saja perpustakaan yang dimiliki. Perpustakaan umur Cordova misalnya memiliki 400.000 buku. Perpustakaa Al-Hakim (Andalusia) memiliki 140 ruangan. Dengan masing-masing 18.000 buku disetiap ruangan.

Sejak abad IV Hijriah perguruan tinggi juga sudah dibangun dan dilengkapi dengan auditorium, asrama mahasiswa, perumahan dosen dan ulama, taman rekreasi, ruang makan dan lain-lain. Sekali lagi di belahan dunia lain belum ditemukan universitas selengkap itu pada masanya. Bahkan sejarah mencatat bahwa kaum muslimin lah yang membangun universitas pertama di dunia. Yakni Universitas Qarawiyyin di Maroko yang dibangun oleh Fatimah Al-Fihri. (Inews.id 25/07/22)
Sarana dan prasarana dibangun merata disetiap wilayah bahkan hingga ke pelosok. Siswa dan mahasiswa bersekolah dengan nyaman dan menyenangkan tanpa merasa terbebani.
Generasi juga tidak akan teracuni dengan gaya hidup yang merusak mereka. Anak-anak akan memahami bahwa menuntut ilmu adalah kewajiban dan salah satu jalan untuk meraih keridhoan Allah. Paradigma inilah yang sangat penting dimiliki generasi agar tetap bersekolah. Allah juga memberikan balasan yang luar biasa kepada para penuntut ilmu. Dalam hadist digambarkan Allah memudahkan surga bagi para pencari ilmu.

“Siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR Muslim, no. 2699).
Dengan demikian generasi akan berlomba-lomba dalam meraih pendidikan setinggi-tingginya. Mereka akan menghabiskan waktu untuk menimba ilmu yang bermanfaat bagi dunia dan akhirat alih-alih menghabiskan waktu pada hal tak bermanfaat atau meraih kesenangan semu lainnya. Dengan keseriusan dan kualitas pendidikan yang dibangun negara serta adanya pemahaman yang benar dibenak generasi akan pentingnya pendidikan maka angka putus sekolah bisa diminimalisir dan bahkan bisa nihil.(*)

Home
Adv
Redaksi
Cari
Ke Atas